Apa itu perangkat vaping?
Perangkat vaping merupakan alat yang dioperasikan oleh baterai dan digunakan orang untuk menghirup aerosol, yang umumnya mengandung nikotin (meskipun tidak selalu demikian), perasa, dan bahan-bahan kimia lainnya. Perangkat tersebut dapat menyerupai rokok tembakau tradisional (ciig-a-likes), cerutu atau pipa, atau bahkan perangkat sehari-hari seperti pulpen atau stik memori USB.
Perangkat lainnya, misalnya yang memiliki tongkat yang dapat diisi, mungkin terlihat berbeda. Terlepas dari tampilan dan disainnya, perangkat-perangkat tersebut umumnya beroperasi dengan cara yang sama dan dibuat dengan komponen yang serupa. Lebih dari 406 merek rokok elektronik yang berbeda berada di pasaran.
Bagaimana perangkat vaping bekerja?
Kebanyakan rokok elektronik terdiri dari 4 komponen berbeda, yaitu:
• Cartridge atau reservoir atau pod, bagian yang menampung larutan cair (e-liquid atau e-juice) mengandung nikotin, perasa, dan bahan-bahan kimia lainnya dalam jumlah yang beragam.
• Elemen pemanas (atomizer)
• Sumber listrik (biasanya baterai)
• Corong yang digunakan orang untuk menghirup
Pada kebanyakan rokok elektronik, isapan akan mengaktifkan alat pemanas bertenaga baterai, yang akan menguapkan cairan ke dalam cartridge. Kemudian, orang akan menghirup aerosol atau uap yang dihasilkan (disebut vaping).
Vaping di Kalangan Remaja
Perangkat vaping sangat populer di kalangan remaja dan kini menjadi bentuk nikotin yang paling umum digunakan di kalangan remaja Amerika Serikat. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa banyak remaja yang tidak menyadari bahwa cartridge vaping mengandung nikotin dan berasumsi bahwa pod-nya hanya mengandung perasa. Ketersediaan perangkat yang mudah, iklan yang menggoda, beragam rasa e-liquid, dan keyakinan bahwa perangkat vaping lebih aman dibandingkan rokok telah menjadikan perangkat vaping lebih menarik bagi kelompok usia tersebut.
Selain itu, perangkat ini lebih mudah disembunyikan dari orangtua dan guru karena tidak meninggalkan bau seperti halnya rokok tembakau, dan sering disamarkan sebagai flash drive. Lebih lanjut, sebuah penelitian pada siswa sekolah menengah menemukan bahwa satu dari 4 remaja melaporkan penggunaan rokok elektrik untuk “dripping”, sebuah praktik dimana orang menghasilkan dan menghirup uap dengan menempatkan tetesan e-liquid langsung ke elemen pemanas. Para remaja melaporkan alasan-alasan berikut untuk praktik “dripping”: menciptakan uap yang lebih kental (63,5%), meningkatkan rasa (38,7%), dan menghasilkan rasa yang lebih kuat di tenggorokan – perasaan menyenangkan yang diciptakan oleh uap tersebut karena membuat tenggorokan berkontraksi (27,7%). Diperlukan lebih banyak penelitian untuk mengetahui risiko dari praktik tersebut.
Selain dampak kesehatan yang belum diketahui, bukti awal menunjukkan bahwa vaping berperan sebagai produk awal yang memperkenalkan pra-remaja dan remaja kepada produk nikotin lainnya, termasuk rokok, yang telah diketahui menyebabkan penyakit dan kematian dini. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa para siswa yang menggunakan rokok elektrik pada saat mereka berada di kelas-9 lebih besar kemungkinannya untuk mulai merokok dan menggunakan produk tembakau lainnya pada tahun berikutnya dibandingkan siswa lainnya.
Penelitian lainnya, juga mendukung hasil tersebut, menunjukkan bahwa siswa-siswa sekolah menengah yang menggunakan rokok elektrik dalam sebulan terakhir memiliki kemungkinan 7x lebih besar untuk mulai merokok ketika ditanya kembali 6 bulan setelahnya, dibandingkan dengan para siswa lainnya yang mengatakan bahwa mereka tidak menggunakan rokok elektrik. Faktanya, hal sebaliknya tidak terjadi – para siswa yang melaporkan bahwa mereka yang merokok tidak melaporkan penggunaan rokok elektrik ketika ditanya kembali 6 bulan setelahnya.
Seperti penelitian sebelumnya, hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa para remaja yang menggunakan rokok elektrik berisiko lebih besar untuk merokok (tembakau) di masa depan. Penelitian lainnya telah menunjukkan adanya hubungan antara penggunaan rokok elektrik dan perkembangan menjadi perokok sebenarnya. Penelitian ini menunjukkan bahwa vaping nikotin mendorong perilaku merokok pada remaja.
Selain itu, sebuah studi pada perokok dewasa di Eropa menemukan bahwa mereka yang menggunakan vaping nikotin memiliki keinginan lebih kecil untuk berhenti merokok dibandingkan dengan mereka yang tidak. Mereka yang menggunakan rokok elektrik juga mengkonsumsi lebih banyak rokok dibandingkan mereka yang tidak. Dalam penelitian lainnya dengan lebih dari 800 partisipan yang mengatakan bahwa mereka menggunakan vaping untuk membantu mereka berhenti merokok tradisional, hanya 9% yang melaporkan telah berhenti merokok ketika ditanya kembali setahun kemudian. Namun demikian, dibutuhkan lebih banyak penelitian untuk memahami apakah eksperimen dengan rokok elektrikmengarah kepada penggunaan rutin rokok tembakau.
Berdasarkan peraturan U.S. Food and Drug Administration (FDA; BPOM AS) yang dirancang untuk melindungi kesehatan generasi muda Amerika Serikat, anak di bawah umur tidak boleh membeli rokok elektrik, baik di toko maupun online (lihat “Government Regulation of E-cigarettes”). Sekarang ini, FDA mengaturpembuatan, impor, pengemasan, pelabelan, periklanan, promosi, penjualan, dandistribusirokokelektrik. Peraturantersebutjugamencakupkomponendanbagiandarirokokelektrik, namuntidaktermasukaksesorisnya.
“Government Regulation of E-cigarettes” (Peraturan Pemerintah AS tentang Rokok Elektrik)
Pada tahun 2016, FDA menetapkan aturan bagi rokok elektrik dan larutan cairannya. Karena rokok elektrik mengandung nikotin yang berasal dari tembakau, produksi rokok elektrik harus mematuhi peraturan pemerintah seperti halnya produk-produk tembakau lainnya. Pada Desember 2019, FDA menaikkan batas usia minimum yang legal untuk penjualan produk tembakau dari 18 tahun menjadi 21 tahun. Dan pada Januari 2020, FDA mengeluarkan kebijakan mengenai penjualan cartridge vaping beraroma.
Bagaimana cara vaping mempengaruhi otak?
Nikotin dalam e-liquid dengan mudah diserap dari paru-paru ke dalam aliran darah ketika seseorang melakukan vape rokok elektrik. Ketika memasuki aliran darah, nikotin menstimulasi kelenjar adrenal untuk melepaskan hormone epinefrin (adrenalin). Epinefrin menstimulasi system saraf pusat dan meningkatkan tekanan darah, pernapasan, serta detakjantung. Seperti layaknya kebanyakan zat adiktif, nikotin mengaktivasi sirkuit penghargaan pada otak dan juga meningkatkan kadar zat kimia di otak yang disebut dopamin, yang berfungsi memperkuat perilaku yang memperoleh penghargaaan. Kenikmatan yang disebabkan oleh interaksi nikotin dengan sirkuit penghargaan memotivasi sejumlah orang untuk menggunakan nikotin berulang kali, meskipun ada risiko terhadap kesehatan dan kesejahteraan mereka.
Apakah efek kesehatan dari vaping? Apakah vaping lebih aman dari merokok tembakau?
Penelitian sejauh ini menunjukkan bahwa perangkat vaping mungkin saja tidak terlalu berbahaya dibandingkan dengan rokok ketika orang yang terbiasa merokok beralih ke perangkat tersebut sebagai penggantinya. Akan tetapi, nikotin dalam bentuk apapun merupakan zat yang sangat adiktif. Penelitian menunjukkan bahwa nikotin dapat meningkatkan system penghargaan dalam otak, membuat pengguna vape berisiko kecanduan zat-zat lainnya.
Selain itu, rokok elektrik membuat paru-paru terpapar dengan beragam bahan-bahan kimia, termasuk bahan kimia yang ditambahkan ke dalam e-liquid, dan bahan kimia lainnya yang dihasilkan selama proses pemanasan/penguapan. Sebuah studi pada sejumlah produk rokok elektrik menemukan bahwa uap rokok elektrik mengandung karsinogen dan bahan kimia beracun, serta nanopartikel logam yang berpotensi beracun dari perangkat itu sendiri. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa e-liquid dari merek “cig-a-like” tertentu mengandung nikel dan kromium dalam kadar yang tinggi, yang mungkin berasal dari kumparan pemanas nikrom alat penguap tersebut.
Cig-a-like juga dapat mengandung cadmium dalam kadar rendah. Kadmium adalah logam beracun yang juga ditemukan dalam rokok tembakau yang dapat menimbulkan masalah dan penyakit pernapasan. Diperlukan lebih banyak penelitian untuk mengetahui dampak kesehatan dari paparan berulang terhadap bahan-bahan kimia tersebut. Terdapat juga laporan mengenai penyakit paru-paru dan kematian yang berkaitan dengan penghirupan jenis minyak vaping tertentu ke dalam paru-paru, yang tidak memiliki cara untuk menyaring bahan-bahan beracun.
Laporan Kematian Terkait Vaping
FDA telah memperingatkan masyarakat akan ribuan laporan terkait penyakit paru-paru serius yang terkait dengan vaping, termasuk puluhan kasus kematian. FDA bekerja sama dengan the Centers for Disease Control and Prevention (CDC) untuk menyelidiki penyebab penyakit tersebut. Banyak dari produk-produk yang dicurigai telah diuji oleh petugas kesehatannegara bagian atau federal telah teridentifikasi sebagai produk vaping yang mengandung THC, senyawa psikotropika utama dalam mariyuana. Sejumlah pasien melaporkan adanya campuran THC dan nikotin, dan yang lainnya melaporkan vaping yang hanya mengandung nikotin. Sementara CDC dan FDA terus menyelidiki kemungkinan adanya senyawa lainnya yang berkontribusi, CDC telah mengidentifikasi adanya zat pengental – vitamin E asetat – sebagai bahan kimia yang menjadi perhatian di antara orang-orang yang menderita cedera paru-paru terkait penggunaan rokok elektrik atau vaping.
CDC dan FDA merekomendasikan agar masyarakat tidak menggunakan produk-produk vaping yang mengandung vitamin E asetat, atau produk-produk vaping lainnya yang mengandung THC; terutama dari sumber informal seperti teman, keluarga, atau dealer langsung dan online. Mereka juga memperingatkan agar tidak memodifikasi produk apapun yang dibeli di toko, atau menggunakan produk-produk vaping lainnya yang dibeli di jalan. Masyarakat, termasuk professional kesehatan, harus melaporkan adanya efek tidak menguntungkan dari produk-produk vaping. CDC telah memposting “information page for consumers.”
Efek Kesehatan bagi Remaja
Masa remaja merupakan masa kritis bagi perkembangan otak, yang terus berlanjut hingga masa dewasa muda. Generasi muda yang menggunakan produk nikotin dalam bentuk apapun, termasuk rokok elektrik, berisiko efek jangka panjang, karena nikotin mempengaruhi perkembangan system penghargaan pada otak, vaping nikotin yang berkelanjutan tidak hanya mengarah pada ketergantungan nikotin, namun juga dapat membuat zat-zat lainnya seperti kokain dan metamfetamin menjadi lebih menyenangkan bagi otak remaja yang sedang berkembang.
Nikotin juga mempengaruhi perkembangan sirkuit otak yang mengendalikan perhatian dan pembelajaran. Risiko lainnya meliputi gangguan mood dan masalah permanen yang berkaitan dengan pengendalian impuls – kegagalan dalam melawan keinginan atau impuls yang dapat merugikan diri sendiri atau orang lain.
Bisakah vaping membantu seseorang berhenti merokok?
Sebagian orang percaya bahwa rokok elektrik dapat membantu menurunkan hasrat terhadap nikotin pada mereka yang ingin berhenti merokok. Namun demikian, rokok elektrik bukanlah cara berhenti merokok yang disetujui oleh FDA, dan tidak ada bukti ilmiah akan efektivitas vaping untuk berhenti merokok dalam jangka panjang. Perlu diperhatikan bahwa terdapat 7 cara berhenti merokok yang disetujui oleh FDA yang terbukti aman dan efektif ketika digunakan sesuai arahan.
Nikotin vaping belum dievaluasi secara menyeluruh dalam penelitian ilmiah. Untuk saat ini, belum terdapat data yang cukup mengenai keamanan rokok elektrik, bagaiman dampak kesehatannya dibandingkan dengan rokok tradisional, dan apakah rokok elektrik membantu orang berhenti merokok.
Poin-poin untuk diingat :
Orang menggunakan alat vaping yang dioperasikan baterai untuk menghirup aerosol, yang dapat mengandung nikotin, mariyuana, perasa, dan senyawa kimia lainnya. Pada banyak rokok elektrik, isapan akan mengaktifkan alat pemanas yang dioperasikan oleh baterai, yang menguapkan cairan dalam cartridge atau reservoir. Orang tersebut kemudian menghirup uap atau aerosol yang dihasilkan (disebut vaping).
Vaping sangat popular di kalangan remaja. Berdasarkan peraturan FDA yang dibuat untuk melindungi kesehatan kaum remaja Amerika, anak dibawah umur tidak lagi dapat membeli rokok elektrik di toko ataupun online.
Nikotin menstimulasi kelenjar adrenal untuk melepas homor epinefrin (adrenalin) dan meningkatkan kadar zat kimia dalam otak yang disebut dopamine. Rasa senang ditimbulkan oleh interaksi nikotin dengan system penghargaan pada otak yang memotivasi sejumlah orang untuk menggunakan nikotin berulang kali, meskipun terdapat risiko terhadap kesehatan dan kesejahteraan mereka.
Penelitian menunjukkan bahwa vaping tidak terlalu berbahaya dibandingkan rokok yang dibakar ketika orang yang terbiasa merokok beralih ke vaping sebagai penggantinya. Namun, rokok elektrik tetap dapat merusak kesehatan seseorang.
Vaping dapat mengarah kepada adiksi nikotin dan meningkatkan risiko ketergantungan terhadap zat-zat lainnya.
Vaping juga memaparkan paru-paru terhadap berbagai senyawa kimia, termasuk senyawa kimia yang ditambahkan ke e-liquid, dan senyawa kimia lainnya yang dihasilkan selama proses penguapan/pemanasan.
Diperlukan lebih banyak penelitian untuk menentukan apakah nikotin vaping bisa seefektif alat bantu berhenti merokok yang telah disetujui oleh FDA.
Link to: https://nida.nih.gov/publications/drugfacts/vaping-devices-electronic-cigarettes

