Apa yang dimaksud dengan obat yang dijual bebas (over-the-counter medicines)?
Obat yang dijual bebas adalah obat yang dapat dijual langsung tanpa resep dokter. Obat-obat tersebut mengobati beragam jenis penyakit dan gejalanya seperti nyeri, batuk-pilek, diare, konstipasi, jerawat, dan lainnya. Sejumlah obat bebas memiliki senyawa aktif yang berpotensi disalahgunakan ketika digunakan pada dosis yang lebih tinggi dari yang dianjurkan.
Bagaimana orang menggunakan dan menyalahgunakan obat bebas?
Penyalahgunaan obat bebas berarti:
> menggunakan obat bebas dengan cara atau dosis yang berbeda dari yang tertera di kemasan
> menggunakan obat bebas untuk mendapatkan efek yang ditimbulkannya – contoh, untuk mendapatkan efek “high” (mabuk)
> menyampur obat bebas untuk menghasilkan produk baru
Obat bebas apa saja yang sering disalahgunakan?
Terdapat dua jenis obat bebas yang sering disalahgunakan:
Dextromethorphan (DXM) merupakan senyawa yang menekan (suppressant) batuk yang ditemukan dalam banyak obat flu yang dijual bebas. Sumber DXM yang paling sering disalahgunakan adalah sirup batuk “ekstra kuat”, tablet, dan kapsul gel.
Obat bebas yang mengandung DXM terkadang juga mengandung antihistamin dan dekongestan. DXM dapat ditelan dalam bentuk aslinya atau dapat dicampur dengan soda untuk menambah rasa, disebut dengan “robo-tripping” atau “skittling”. Pengguna narkoba terkadang menyuntikkan DXM. Obat-obat tersebut terkadang disalahgunakan dengan cara menyampurkannya dengan narkoba, seperti alcohol dan mariyuana.
Loperamide merupakan obat anti-diare yang tersedia dalam bentuk tablet, kapsul, dan bentuk cair. Penyalahgunaan loperamide terjadi ketika orang menelan obat tersebut dalam jumlah besar. Tidak ada data seberapa sering orang menyalahgunakan obat ini.
Bagaimana obat-obat bebas tersebut mempengaruhi otak?
DXM merupakan opioid tanpa efek pada pengurangan rasa sakit dan tidak bekerja pada reseptor opioid. Ketika dikonsumsi dalam dosis besar, DXM menyebabkan efek depresan dan terkadang halusinasi, serupa dengan PCP dan ketamin.
Perilaku berulang untuk merasakan kembali efek tersebut dapat mengarah kepada adiksi – kondisi otak kronis kambuhan yang ditandai dengan ketidakmampuan untuk berhenti menggunakan narkoba/obat meskipun memiliki konsekuensi yang buruk bagi hidup dan kesehatan seseorang.
Loperamide merupakan opioid yang didisain untuk tidak memasuki otak. Namun demikian, ketika dikonsumsi dalam jumlah besar dan dicampur dengan senyawa lainnya, hal tersebut dapat menyebabkan loperamide beraksi serupa dengan opioid lainnya.
Opioid lainnya, seperti obat pereda nyeri lainnya dan heroin, berikatan dengan dan mengaktivasi reseptor opioid pada banyak area di otak, khususnya yang terlibat dengan rasa nyeri dan senang. Reseptor opioid terletak di batang otak, yang mengendalikan proses penting, seperti tekanan darah, gairah, dan pernapasan.
Obat yang tidak dijual bebas (Behind-the-Counter)
“Pseudoephedrine”, merupakan dekongestan hidung yang ditemukan dalam banyak obat flu yang dijual bebas, dapat digunakan untuk membuat metamfetamin. Karena alasan tersebut (di Amerika Serikat), obat-obatan yang mengandung pseudoephedrine tidak dijual bebas.
Resep dokter tidak diperlukan di sebagian besar negara bagian, namun di negara bagian yang mensyaratkan resep dokter, terdapat batasan jumlah obat tersebut yang dapat diberli orang setiap bulannya. Di sejumlah negara bagian, hanya orang yang berusia 18 tahun ke atas dapat membeli pseudoephedrine.
Apa saja efek kesehatan dari obat-obat tersebut?
(1) DXM
Efek jangka pendek penyalahgunaan DXM dapat berkisar dari stimulasi ringan hingga gejala mirip intoksikasi akibat alkohol atau mariyuana. Pada dosis tinggi, seseorang dapat mengalamai halusinasi atau perasaan distorsi fisik, rasa panik ekstrim, kecemasan, dan agresi.
Efek kesehatan lainnya dari penyalahgunaan DXM mencakup:
• Hipereksitabilitas
• Kontrol motorik yang buruk
• Kekurangan energi
• Nyeri perut
• Perubahan penglihatan
• Ucapan tidak jelas
• Peningkatan tekanan darah
• Berkeringat
Penyalahgunaan produk DXM yang mengandung asetaminofen dapat mengakibatkan kerusakan hati.
(2) Loperamide
Dalam jangka pendek, loperamide terkadang disalahgunakan untuk mengurangi “craving” dan gejala putus obat; namun demikian, obat tersebut dapat mengakibatkan euphoria, serupa dengan opioid lainnya.
Penyalahgunaan loperamide juga dapat mengakibatkan pingsan, nyeri perut, konstipasi, perubahan mata, dan hilangnya kesadaran. Obat ini dapat mengakibatkan jantung berdetak cepat atau tidak teratur, atau menyebabkan gangguan ginjal.
Seluruh efek samping tersebut dapat meningkat ketika orang mengonsumsi obat lainnya yang berinteraksi dengan loperamide. Efek lainnya belum banyak diteliti dan laporan mengenai hal tersebut beragam, namun konsekuensi fisik dari penyalahgunaan loperamide bisa parah.
Apakah seseorang dapat mengalami overdosis akibat obat bebas tersebut?
YA! Orang dapat mengalami overdosis akibat obat flu yang mengandung DXM atau loperamide. Overdosis terjadi ketika seseoroang menggunakan obat tersebut dalam jumlah yang cukup untuk mengakibatkan reaksi yang mengancam jiwa ataupun kematian (Baca lebih lanjut di laman kami: Intentional vs. Unintentional Overdose Deaths )
Seperti halnya dengan opioid lainnya, ketika orang mengalami overdosis DXM atau loperamide, pernapasan mereka cenderung melambat atau berhenti. Hal ini mengakibatkan penurunan jumlah oksigen ke otak, suatu kondisi yang disebut dengan hipoksia.
Hipoksia memiliki efek mental jangka pendek dan jangka panjang serta berefek terhadap sistem saraf, termasuk koma dan kerusakan otak permanen serta kematian.
Bagaimana overdosis obat bebas dapat diobati?
Seseorang yang mengalami overdosis memerlukan pertolongan medis segera. Hubungi nomor kegawatdaruratan (911 untuk Amerika Serikat) [atau bawa pasien overdosis ke IGD RS terdekat]. Jika pernapasan orang tersebut berhenti atau melemah, lakukan CPR.
Overdosis DXM juga dapat diobati dengan nalokson. Baca lebih lanjut mengenai nalokson di laman terjemahan berikut: Fakta tentang naloxone atau di laman artikel asli: Naloxone webpage.
Obat-obatan tertentu dapat digunakan untuk menangani gangguan ritme jantung yang disebabkan oleh overdosis loperamide. Jika jantung berhenti bekerja, penyedia layanan kesehatan dapat melakukan CPR atau terapi pendukung kardiak lainnya.
Apakah penyalahgunaan obat bebas tersebut dapat menyebabkan adiksi?
YA! Penyalahgunaan DXM atau loperamide dapat menyebabkan adiksi. Adiksi terjadi ketika penggunaan obat tersebut secara terus menerus dan menyebabkan gangguan, seperti gangguan jantung dan kegagalan dalam memenuhi tanggung jawab di tempat kerja, sekolah, ataupun di rumah. Gejala putus obat DXm dan loperamide belum banyak diteliti.
Bagaimana cara mendapatkan pengobatan untuk adiksi obat bebas?
Belum ada obat-obatan yang penggunaannya disetujui secara khusus untuk menangani adiksi DXM atau loperamide. Terapi perilaku, seperti cognitive-behavioral therapy (CBT) dan contingency management (CM), dapat membantu.
CBT membantu merubah perilaku dan ekspektasi pasien mengenai penggunaan narkoba/obat, dan secara efektif mengelola stres serta pemicu secara efektif. CM adalah tindakan memberikan voucher atau hadian uang tunai dalam jumlah sedikit untuk perilaku positif seperti kondisi bebas dari narkoba.
Baca lebih lanjut mengenai pengobatan adiksi narkoba pada Treatment webpage
Poin-poin untuk diingat
– Obat bebas adalah obat yang dapat dijual langsung tanpa memerlukan resep dokter.
Obat bebas yang berpotensi disalagunakan adalah:
a. Dextramethorphan (DXM), merupakan supresan batuk yang ditemukan dalam banyak obat flu yang dijual bebas.
b. Loperamide, adalah obat anti diare.
– Ketika menyalahgunakan DXM, orang meminumnya dalam jumlah besar, terkadang mencampurnya dengan soda untuk menambah rasa, yang disebut “robo-tipping” atau “skittling”. Loperamide juga dapat ditelan.
– Efek jangka pendek penyalahgunaan DXM dapat berkisar dari stimulasi ringan hingga gejala intoksikasi serupa yang disebabkan oleh alcohol atau mariyuana. Penyalahgunaan loperamide dapat mengakibatkan euphoria, serupa dengan opioid lainnya, atau berkurangnya “craving” dan gejala putus obat, namun efek lainnya masih belum banyak diteliti serta laporan yang diterima masih beragam.
– Orang dapat mengalami overdosis akibat obat flu yang mengandung DXM atau loperamide.
– Overdosis dapat ditangani dengan CPR dan obat-obatan tertentu bergantung pada gejala yang dialami, namun langkah penting yang harus diambil adalah menghubungi nomor 911 (untuk wilayah AS) atau membawa pasien segera ke IGD RS terdekat.
– Penyalahgunaan DXM atau loperamide dapat mengakibatkan adiksi.
– Tidak ada obat-obatan untuk menangani adiksi DXM atau loperamide. Terapi perilaku, seperti CBT dan CM, dapat membantu.
————————————————–
Link to: https://nida.nih.gov/publications/drugfacts/over-counter-medicines

