Meskipun kebiasaan merokok telah menurun secara signifikan dalam 40 tahun terakhir, penggunaan produk tembakau lainnya mengalami peningkatan – khususnya pada kaum muda. Produk-produk tersebut meliputi:
- Cerutu: tembakau yang dibungkus dalam daun tembakau atau bahan lain yang mengandung tembakau sebagai pengganti kertas, yang dapat dibeli terpisah
- Cigarillos: cerutu kecil yang harganya lebih murah dan dapat dibeli terpisah
- Shisha atau pipa air: pipa dengan tabung panjang dan fleksibel untuk menghisap asap dari tembakau beraroma yang dibakar melalui air yang terdapat dalam mangkuk
- Tembakau tanpa asap: produk seperti tembakau kunyah dan sedot yang dikunyah di dalam mulut
- Tembakau bubuk: campuran yang dihirup melalui hidung
Pada tahun 2014, hampir seperempat dari siswa sekolah menengah melaporkan penggunaan produk tembakau dalam satu bulan terakhir – dengan rokok elektrik (13,4%), shisha (9,4%), rokok (9,2%), cerutu (8,2%), tembakau tanpa asap (5,5%), dan snus (bubuk tembakau basah) (1,9%) sebagai jenis yang paling populer.
Cerutu
Pada tahun 2016, diperkirakan sebanyak 12 juta penduduk berusia 12 tahun ke atas (4,6% dari populasi remaja dan dewasa) merokok cerutu dalam satu bulan terakhir. Mayoritas remaja dan dewasa muda yang merokok cerutu juga merokok lainnya.
Cigarillos
Data dari Tobacco Use Supplement to the Current Population Survey dan NSDUH menunjukkan bahwa laki-laki yang lebih muda dan kurang mampu secara ekonomi mulai merokok menggunakan cigarillos. Dari tahun 2002 ingga 2011, penggunaan rokok dalam satu bulan terakhir menurun bagi laki-laki dan perempuan dari semua kelompok usia. Namun pada periode yang sama, angka penggunaan cigarillos pada laki-laki usia 18 – 25 tahun tetap sama (sekitar 9%)
Shisha atau pipa air
Menurut NYTS, antara tahun 2011 dan 2014, penggunaan shisha mengalami peningkatan di kalangan siswa SMP dan SMA, meskipun penggunaan rokok dan cerutu mengalami penurunan. Penelitian menunjukkan bahwa angka penggunaan shisha untuk merokok tembakau mengalami peningkatan selama bulan pertama kuliah. Data representatif nasional dari mahasiswa mengindikasikan bahwa perokok dan perokok cerutu (serta pengguna ganja) lebih cenderung menjadi pengguna shisha yang rutin.
Pengguna shisha secara keliru mempercayai bahwa shisha tidak terlalu adiktif atau pun berbahaya dibandingkan dengan rokok; namun, satu sesi merokok shisha membuat penggunanya terpapar dengan volume asap yang lebih besar dan kadar racun tembakau yang lebih tinggi (contoh: tar) dibandingkan dengan rokok. Selain itu, merokok shisha dikaitkan dengan ketergantungan nikotin dan kaitannya dengan konsekuensi medis (lihat “Apa saja dampak kesehatan fisik dari penggunaan tembakau?). Tinjauan literatur pada pengguna shisha menunjukkan bahwa seperti pada pengguna tembakau lainnya, banyak perokok shisha yang berusaha berhenti merokok namun gagal. Hasil temuan tersebut menunjukkan perlunya kebijakan pengendalian tembakau dan pencegahan serta intervensi pengobatan bagi bentuk penghantaran nikotin ini yang serupa dengan yang terdapat pada rokok.
Tembakau tanpa asap
Pada tahun 2016, 8,8 juta orang berusia 12 tahun ke atas (3,3% dari total populasi tersebut) menggunakan tembakau tanpa asap selama satu bulan terakhir. Secara keseluruhan, penggunaan tembakau tanpa asap di kalangan orang dewasa menurun dari tahun 1992 sampai tahun 2003, namun tetap konstan sejak saat itu. Data longituidinal menunjukkan bahwa orang lebih cenderung untuk beralih dari penggunaan tembakau tanpa asap ke rokok daripada sebaliknya. Meskipun perokok berusaha menggunakan tembakau tanpa asap untuk mengurangi konsumsi atau berhenti, penelitian menunjukkan bahwa pendekatan tersebut tidak efektif. Akan tetapi, sejumlah orang berpendapat bahwa menggunakan tembakau tanpa asap sebagai pengganti rokok dapat membantu mengurangi bahaya dari merokok tradisional.
Penggunaan politembakau
Sejumlah pengguna tembakau mengonsumsinya dalam berbagai bentuk (penggunaan politembakau); perilaku ini dikaitkan dengan ketergantungan nikotin yang berat dan risiko bagi gangguan penyalahgunaan narkoba. Analisa data selama satu dekade dari NSDUH menemukan tingkat penggunaan politembakau yang stabil dari tahun 2002 hingga tahun 2011 (8,4% hingga 7,4%) pada orang berusia 12 tahun ke atas. Namun demikian, penggunaan kombinasi sejumlah produk tembakau – seperti rokok dan tembakau tanpa asap, cerutu dan tembakau tanpa asap, penggunaan lebih dari dua produk – mengalami peningkatan selama periode tersebut.
Pada individu berusia kurang dari 26 tahun, angka penggunaan politembakau mengalami peningkatan meskipun terdapat penurunan pada angka penggunaan tembakau secara keseluruhan. Penggunaan politembakau dikaitkan dengan faktor jenis kelamin (laki-laki), memiliki tingkat pendapatan dan pendidikan rendah, serta terlibat dalam perilaku berisiko. Pada tahun 2014, sekitar 2,2 juta siswa SMP dan SMA telah menggunakan dua atau lebih jenis produk tembakau dalam satu bulan terakhir, menurut data NYTS. Penggunaan politembakau merupakan hal yang umum, bahkan pada siswa yang menggunakan produk tembakau selama 5 hari atau kurang dalam sebulan terakhir. NYTS 2012 menemukan bahwa 4,3% siswa menggunakan tiga atau lebih jenis tembakau. Penelitian ini juga mengamati bahwa jenis kelamin laki-laki, penggunaan produk beraroma, ketergantungan nikotin, penerimaan terhadap pemasaran tembakau, dan persepsi penggunaan oleh teman sebaya semuanya dikaitkan dengan penggunaan politembakau pada remaja.
Penggunaan tembakau beraroma pada remaja dan dewasa muda
Kekhawatiran utama terkait rokok elektrik dan produk tembakau seperti cigarillos dan shisha adalah penambahan perasa, yang membuat produk-peoduk tersebut menarik bagi kaum muda. The Family Smoking Prevention and Tobacco Control Act of 2009 melarang penjualan rokok beraroma dengan rasa selain mentol, namun produk tembakau beraroma lainnya (mis., cerutu kecil, cigarillos, dan tembakau tanpa asap) masih dapat dijual. Penambahan perasa pada produk tembakau atau ke dalam solusi nikotin rokok elektrik dapat membuat produk tersebut lebih menarik bagi sejumlah pengguna karena menutupi rasanya yang keras. Meskipun penelitian lebih lanjut diperlukan untuk meneliti cara perasa mempengaruhi penggunaan jangka panjang, pakar kesehatan telah mengekspresikan kekhawatiran akan banyak perasa yang digunakan dalam produk tembakau ditemukan dalam permen dan minuman. Perasa dapat membuat produk tersebut lebih menarik bagi kaum muda dan berkontribusi terhadap peningkatan penggunaan produk tersebut di kalangan kaum muda.
Sekitar 6,3% siswa SMP dan SMA melaporkan penggunaan rokok beraroma atau cerutu kecil, menurut data NYTS 2011. Data dari NYTS 2014 mengindikasikan bahwa siswa SMP dan SMA yang saat ini menggunakan tembakau, sekitar 70% – sekitar 3,26 juta kaum muda – telah menggunakan setidaknya satu produk tembakau beraroma selama satu bulan terakhir. Pada pengguna di bulan lalu, produk beraroma yang paling sering digunakan adalah rokok elektrik, tembakau shisha, dan cerutu. Tampaknya kaum muda belum tentu “berhenti” menggunakan produk tembakau beraroma. Pada kelompok dewasa muda berusia 18 tahun hingga 34 tahun, hampir seperlima (18,5%) dari mereka yang menggunakan tembakau, mengonsumsi produk beraroma (termasuk mentol).
Tautan ke artikel asli:
- https://nida.nih.gov/research-topics/tobacconicotine-vaping
- https://nida.nih.gov/research-topics/commonly-used-drugs-charts#TobaccoNicotineandVaping
- https://nida.nih.gov/publications/research-reports/tobacco-nicotine-e-cigarettes/introduction
Kalimat kutipan:
NIDA. 2020, January 1. Introduction. Retrieved from https://nida.nih.gov/publications/research-reports/tobacco-nicotine-e-cigarettes/introduction on 2025, February 19

