Obat HIV Jangka Panjang Baik Untuk Pasien Namun Hanya Sebagian Dari Yang Dibutuhkan
Long-Acting ART is Great for Adherence-Challenged Patients – But Is Still Just Part of What They Need
Terapi antiretroviral suntik jangka panjang (long-acting, injectable antiretroviral therapy; LA-ART) masih diindikasikan hanya untuk digunakan di AS untuk sebagian kecil pasien. Bagaimana dengan kebanyakan pasien yang menghadapi tantangan besar dalam mematuhi jadwal minum obat HIV harian dan berharap mereka memiliki pilihan untuk sebulan sekali? Hasil penelitian terbaru dari sebuah studi besar menggarisbawahi pentingnya LA-ART bagi populasi ini – serta membantu kita memahami dan menghargai bahwa membuat LA-ART tersedia bagi populasi tersebut hanya merupakan bagian dari hal-hal yang sebenarnya dibutuhkan oleh pasien.

Penelitian ini merupakan uji klinis acak, label terbuka, fase 3 yang meneliti apakah perpindahan dari ART oral harian ke cabotegravir + rilpivirine suntik jangka panjang meningkatkan durabilitas pengobatan pada ODHIV yang kesulitan mematuhi jadwal minum obat HIV oral harian. Penelitian tersebut dilaksanakan di berbagai pusat penelitian di AS di bawah jejaring AIDS Clinical Trials Group (ACTG).
Hasil Efikasi:
- Kegagalan rejimen hingga dengan 48 minggu
- Cabotegravir + rilpivirine suntik jangka panjang à 22,8% partisipan mengalami kegagalan rejimen.
- ART oral harian à 41,2% mengalami kegagalan rejimen
- Kegagalan virologis
- Probabilitas kumulatif dari kegagalan virologis (rebound viral load HIV) pada minggu ke-48 secara signifikan lebih rendah pada kelompok ART suntik (~6,8%) dibandingkan pada kelompok ART oral (~28,2%). Perbedaan kegagalan virologis pada kedua kelompok penelitian bernilai signifikan.
- Rincian kejadian pertama
- Pada kelompok suntik jangka panjang, kegagalan rejimen sebagian besar diakibatkan oleh penghentian permanen dibandingkan akibat kegagalan virologis.
- Pada kelompok ART oral, proporsi kegagalan yang tinggi diakibatkan oleh rebound virologis.
Tautan ke berita lengkap: Long-Acting ART Is Great for Adherence-Challenged Patients—But Is Still Just Part of What They Need
Tautan ke artikel ilmiah terkait: Cabotegravir plus Rilpivirine for Persons with HIV and Adherence Challenges

