Time to HIV Rebound After Infusion

Time to HIV rebound after infusion of long-acting broadly neutralizing antibodies 3BNC117-LS and 10-1074-LS and analytical treatment interruption (the RIO trial): a double-blind, randomized, placebo-controlled trial

Ming J LeeLouise-Rae CherrillPanagiota ZacharopoulouSimon CollinsMarcilio FumagalliEmanuela FalaschettiMohammed AltafTimothy TipoePiyumika GodakandaarachiJulie FoxAlison UrielAmanda ClarkeSabine Kinloch-de LoesSarah PettMarta BoffitoGary WhitlockOle S SøgaardKyle RingIrvine MangawaJesal GohilTamara ElliottHenrik NielsenJesper Damsgaard GunstChloe OrkinRebecca SutherlandLisa HamzahPaola CicconiGraham P TaylorJacquie UjetzIshrat JahanHelen BrownNicola RobinsonStephen FletcherHanna BoxKelly E SeatonGeorgia D TomarasMargaret E AckermanJoshua A WeinerAnna KaczynskaCintia BittarJill HorowitzMichel C NussenzweigMarina CaskeyJohn FraterSarah FidlerRIO Study Team

Abstrak

Latar Belakang: Antibodi penetral luas yang spesifik HIV (bNAbs) dapat mempertahankan status virus yang terkendali setelah penghentian terapi ARV. Kami meneliti durasi dan efikasi dari bNAb-kerja-panjang yang direkayasa pada bagian Fc (LS-bNAb) dalam mempertahankan pengendalianHIV tanpa obat ARV dibandingkan dengan plasebo.

Metode Penelitian: Studi RIO merupakan uji klinis acak, double blind, dan terkontrol dengan plasebo. Partisipan yang memenuhi syarat penelitian  merupakan orang dewasa berusia  18 – 60 tahun, memulai terapi ARV pada tahap awal infeksi HIV, memiliki viral load tidak terdeteksi dengan penggunaan obat ARV, dan tidak menunjukkan insensitivitas virus terhadap 10-1074. Partisipan secara acak dikelompokkan ke dalam dua kelompok (1:1): kelompok A menerima 2 LS-bNAb (3BNC117-LS dan 10-1074-LS) dan kelompok B menerima plasebo garam. Partisipan dan staf penelitian tidak mengetahui siapa yang mendapatkan terapi yang diteliti. Partisipan yang memenuhi persyaratan penelitian menghentikan obat ARV setelah menerima blinded (partisipan dan staf penelitian tidak mengetahui terapi apa yang diberikan) infus intravena, bNAb atau plasebo. Infus kedua yang bersifat opsional ditawarkan pada minggu ke-20 bagi partisipan yang tetap berstatus viral load tidak terdeteksi tanpa obat ARV. Hasil utama adalah waktu hingga terjadinya viral rebound 20 minggu setelah penghentian obat ARV, yang didefinisikan sebagai pengukuran pertama dari enam pengukuran RNA HIV plasma berturut-turut yang menunjukkan kadar lebih dari 1.000 kopi/mL, atau dua pengukuran yang menunjukkan kadar lebih dari 100.000 kopi/mL. Seluruh partisipan yang menjalani randomisasi acak disertakan dalam analisis. Penelitian ini terdaftar dalam ClinicalTrials.gov dengan nomor NCT04319367.

Hasil Penelitian: Sebanyak 68 partisipan penelitian diacak ke dalam dua kelompok: 34 orang pada masing-masing kelompok. Pada minggu ke-20, 8 kejadian viral rebound terjadi pada 8 partisipan di kelompok A dan 30 partisipan dengan viral rebound di kelompok B; 75% (95% CI 61-92) partisipan pada kelompok A tidak mengalami viral rebound, dibandingkan dengan 11% (4-29) partisipan pada kelompok B. Partisipan pada kelompok A berisiko 91% lebih rendah mengalami viral rebound dibandingkan partisipan pada kelompok B (hazard ratio 0·09; 95% CI 0·04-0·21, p<0·0001). Terdapat 326 kejadian tidak diinginkan pada kelompok A dan 260 kejadian pada kelompok B, termasuk 19 kejadian yang tidak diinginkan terkait pengobatan atau prosedur pada kelompok A dan 41 pada kelompok B. Dari sembilan kejadian serius yang tidak diinginkan, tidak ada satu pun yang terkait dengan pengobatan. Kejadian yang tidak diinginkan terkait pengobatan atau prosedur yang paling sering dilaporkan adalah kelelahan, letargi, atau somnolen: 11 kasus pada kelompok A dan sembilan pada kelompok B. Terdapat dua kejadian berat yang tidak diinginkan (abses anal) yang kemungkinan terkait dengan protokol penelitian; keduanya terjadi pada kelompok plasebo.

Interpretasi Penelitian: bNAb kerja-panjang dapat mempertahankan pengendalian virus tanpa pengobatan ARV pada ODHIV yag menjalani pengobatan pada tahap awal infeksi HIV serta merupakan langkah yang menjanjikan menuju pencapaian remisi HIV tanpa obat ARV.

Tautan ke artikel lengkap: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/42202839/                 

Tautan ke ClinicalTrials.gov untuk penelitian terkait: https://clinicaltrials.gov/study/NCT04319367

Kalimat Kutipan: Lee MJ, Cherrill LR, Zacharopoulou P, Collins S, Fumagalli M, Falaschetti E, Altaf M, Tipoe T, Godakandaarachi P, Fox J, Uriel A, Clarke A, Loes SK, Pett S, Boffito M, Whitlock G, Søgaard OS, Ring K, Mangawa I, Gohil J, Elliott T, Nielsen H, Gunst JD, Orkin C, Sutherland R, Hamzah L, Cicconi P, Taylor GP, Ujetz J, Jahan I, Brown H, Robinson N, Fletcher S, Box H, Seaton KE, Tomaras GD, Ackerman ME, Weiner JA, Kaczynska A, Bittar C, Horowitz J, Nussenzweig MC, Caskey M, Frater J, Fidler S; RIO Study Team. Time to HIV rebound after infusion of long-acting broadly neutralising antibodies 3BNC117-LS and 10-1074-LS and analytical treatment interruption (the RIO trial): a double-blind, randomised, placebo-controlled trial. Lancet HIV. 2026 May 27:S2352-3018(26)00059-7. doi: 10.1016/S2352-3018(26)00059-7. Epub ahead of print. PMID: 42202839.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *