Meskipun penelitian telah berlangsung selama beberapa dekade dan dengan ketersediaan obat antiretroviral, HIV tetap menjadi tantangan kesehatan yang signifikan. Meskipun obat-obatan tersebut dapat digunakan untuk menghilangkan gejala HIV dan mencegah penularannya ke orang lain, obatnya belum ditemukan.
Satu tantangan terbesar adalah HIV dapat memasuki kondisi dorman, bersembunyi dalam tubuh dan menghindari pengobatan yang diberikan, hanya untuk aktif kembali di satu waktu. HIV yang bersembunyi di otak menjadi sulit di akses, karena pembatas otak-darah (blood-brain barrier) – membran pelindung yang menyelimuti otak – terkadang mencegah obat masuk ke jaringan tersebut.
Pada penelitian terbaru yang didanai oleh NIMH, para peneliti menjelajahi potensi solusi dengan menguji sebuah obat yang disebut BLZ945 yang menarget sejenis sel imun yang dikenal sebagai makrofag.
Para peneliti menguji efek BLZ945 pada simian immunodeficiency virus (SIV) – virus yang ditemukan pada primata yang sangat terkait dengan HIV. Tim peneliti, yang dipimpin oleh Woong-Ki Kim, PhD Associate Director untuk penelitian pada the Tulane University National Primate Research Center, mengobati primata yang terinfeksi SIV dengan dosis oral harian 10 atau 30 mg/kg BLZ945 selama 20 hingga 30 hari.
Mereka menemukan bahwa kadal makrofag di otak menurun setelah pengobatan dengan BLZ945, dan penurunan tersebut terkait dengan penurunan signifikan SIV yang berada di otak. Hasil ini mengonfirmasikan BLZ945 sebagai pengobatan potensial untuk HIV dengan menarget makrofag. Yang terpenting, pengobatan dengan BLZ945 tidak secara signifikan memengaruhi sel imun lain di otak yang mendukung kesehatan otak, seperti mikroglia.
Tautan ke berita lengkap: Researchers Investigate Potential Treatment for Eliminating HIV from the Brain
Tautan ke artikel terkait: CSF1R Inhibition Depletes Brain Macrophages and Reduces Brain Virus Burden in SIV-infected Macaques

