Apakah ada perbedaan jenis kelamin dalam merokok tembakau?
Umumnya, pria mengonsumsi seluruh produk tembakau dalam jumlah lebih banyak dibandingkan wanita. Pada tahun 2015, 16,7% pria dewasa dan 13,6% wanita dewasa merokok. Perbedaan tersebut mungkin terkait dengan kombinasi faktor fisiologis (khususnya dengan horman ovarium), budaya, dan perilaku.
Hasil dari penelitian neuroimaging menunjukkan bahwa merokok lebih mengaktivasi jalur penghargaan di otak pada pria dibandingkan pada wanita. Hasil temuan tersebut konsisten dengan ide bahwa pria merokok untuk memperkuat efek nikotin, sementara wanita merokok untuk mengatur mood (suasana hati) atau sebagai respon terhadap isyarat-isyarat yang berkaitan dengan rokok. Sebuah studi yang meneliti respon stres dan craving pada perokok pria dan wanita yang berusaha berhenti merokok menemukan bahwa selama fase abstinens rendahnya kadar hormon stres kortisol menjadi prediktor relaps pada pria. Akan tetapi, kadar kortisol yang tinggi menjadi prediktor relapse pada wanita. Penelitian lainnya mengenai abstinens menemukan bahwa merokok sigaret yang mengandung nikotin, dibandingkan dengan rokok tanpa nikotin, dapat meringankan gejala putus obat dan mood negatif lebih besar pada laki-laki dibandingkan pada perempuan. Wanita memperoleh manfaat yang sama dari rokok yang mengandung dan yang tidak mengandung nikotin, menunjukkan bahwa mereka menganggap bahwa zat tersebut kurang bermanfaat dibandingkan dengan pria.
Craving rokok merupakan alasan utama mengapa perokok sulit untuk berhenti, dan desakan kuat untuk merokok dapat dipicu oleh isyarat sensorik dan stres. Penelitian menunjukkan bahwa wanita mengalami craving yang lebih kuat dibandingkan dengan pria sebagai respon terhadap tekanan, namun pria lebih responsive terhadap isyarat lingkungan. Selain itu, data longitudinal dari survei internasional yang dilaksanakan di empat negara industri mengindikasikan bahwa tidak ada perbedaan signifikan mengenai keinginan, rencana untuk, dan upaya untuk berhenti merokok pada pria mau pun wanita. Namun, wanita memiliki 31% kemungkinan tidak berhasil berhenti merokok. Satu alasan mengapa wanita sulit untuk berhenti merokok adalah kenaikan berat badan pasca berhenti merokok. Kekhawatiran tersebut harus dibahas dalam konseling perilaku dan pengobatan tambahan bagi semua perokok.
Angka berhenti merokok secara keseluruhan yang rendah pada wanita mungkin merefleksikan perbedaan jenis kelami terkait respon terhadap obat-obatan tertentu (lihat “Apa saja pengobatan untuk ketergantungan tembakau?”). Contoh, varenicline memiliki efikasi jangka pendek dan jangka panjang yang tinggi (pada bulan ke-3 dan ke-6) pada perokok wanita. Namun, pria dan wanita menunjukkan angka berhenti merokok 1 tahun yang serupa ketika menggunakan varenicline. Sebaliknya, kombinasi varenicline dan bupropion kurang efektif untuk berhenti merokok pada wanita dibandingkan pada pria.
Kekhawatiran lainnya terkait penggunaan tembakau pada wanita adalah merokok selama kehamilan (lihat “Apa saja risiko dari merokok selama kehamilan?”)
Tautan ke artikel asli:
- https://nida.nih.gov/research-topics/tobacconicotine-vaping
- https://nida.nih.gov/research-topics/commonly-used-drugs-charts#TobaccoNicotineandVaping
- https://nida.nih.gov/publications/research-reports/tobacco-nicotine-e-cigarettes/introduction
Kalimat kutipan:
NIDA. 2020, January 1. Introduction. Retrieved from https://nida.nih.gov/publications/research-reports/tobacco-nicotine-e-cigarettes/introduction on 2025, February 19

