Apa yang dapat dipelajari dari Larangan Penggunaan Sosial Media Bagi Remaja di Australia?

What can we learn from Australia’s social media ban for teens

Pemerintah Australia menerapkan aturan mengenai larangan penggunaan media sosial bagi remaja. Cukup banyak pro dan kontra terkait penerapan peraturan tersebut.

Sangat mudah membayangkan bagaimana lingkungan sosial media yang didisain seadanya dapat merusak kesehatan mental remaja. Setiap hari, remaja menghabiskan waktu 4 – 5 jam untuk sosial media, yang sebagian besarnya tidak disadari oleh orangtua. Hal ini terjadi pada periode perkembangan ketika kecenderungan mengambil risiko, serta sensitivitas terhadap penghargaan, penilaiain teman sebaya, dan ekslusi sosial, berada pada tingkat tertinggi sepanjang hidup, namun kemampuan mengendalikan emosi masih belum matang. Asumsi bahwa media sosial dapat mengeksploitasi kelemahan tersebut, serta memicu masalah kesehatan jiwa, tidaklah mengada-ada.

eSafety Commissioner pemerintah Australia, yang bertugas menerapkan larangan tersebut, mendanai penelitian untuk menilai manfaat atau bahaya dari sosial media. Penelitian tersebut, yang melibatkan survei, diskusi kelompok terarah, dan wawancara, melacak penggunaan media sosial di telepon genggam. Sebanyak lebih dari 4.000 remaja beserta orangtua dan pengasuh mereka dipantau oleh 11 pakar, termasuk psikolog. Institusi utama yang melakukan penelitian tersebut adalah Social Media Lab, Standford University. Penelitian ini akan melihat dampak penggunaan sosial media terhadap kesejahteraan, kesehatan mental, paparan terhadap bahaya daring (terdapat kekhawatiran bahwa larangan ini akan mendorong para remaja menuju wilayah kelam internet), dan efeknya terhadap kehidupan keluarga.

Tiga bulan sejak penelitian tersebut berjalan, hasil sementara survei menunjukkan bahwa pola tidur dan kesehatan mental remaja tidak berubah setelah larangan diberlakukan. Namun dampak penuhnya, jika ada, baru akan terlihat jelas ketika anak-anak yang lebih muda beranjak ke usia remaja.

Meskipun dampak dari penerapan larangan penggunaan sosial media bagi anak-anak di Australia masih belum diketahui dengan pasti, larangan tersebut memiliki dampak nyata yang akut. Di seluruh dunia, hal tersebut telah mengubah sikap terhadap disain dan regulasi media sosial, serta meningkatkan sorotan publik terhadap berbagai sarana yang digunakan perusahaan teknologi untuk membuat produk yang memikat. “Penerapan larangan ini benar-benar telah mengubah topik pembicaraan di tingkat global,” ujar Jeff Hancock, psikolog dan direktur Stanford Social Media Lab, California, yang bekerja sama dengan pemerintah Australia mengevaluasi efek dari penerapan larangan penggunaan sosial media bagi anak-anak Australia di bawah 16 tahun.

Tautan ke berita lengkap: What can we learn from Australia’s social media ban for teens?

Tautan ke artikel ilmiah terkait: Impact of the Social Media Minimum Age Act on Australian young people and parents: protocol for a mixed-methods evaluation

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *