Pendahuluan
Perilaku agresif pada masa anak-anak biasanya cenderung memiliki hubungan yang kurang baik dengan sesama teman dan pembimbing baik guru maupun dengan keluarga karena pelaku cenderung kesulitan mengembangkan kemampuan menjalin hubungan antar individu yang sehat (Santrock, 2011).
Menurut Jasra Putra selaku Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan bahwa pada tahun 2011-2021 angka kasus perilaku agresif pada anak secara keseluruhan mencapai 2.473 kasus. Data tersebut menunjukkan bahwa kasus-kasus perilaku agresif pada anak belakangan ini sebenarnya sudah marak terjadi, khususnya di sejumlah lembaga di tanah air.
Anak-anak yang cenderung terlibat dalam perilaku agresif memiliki regulasi emosi yang rendah dan intensitas emosi negatif yang tinggi (Eisenber et al. 1992).
Bibliotherapy merupakan salah satu metode yang dapat membantu regulasi emosi anak dengan membantu mereka mengungkapkan perasaan dan dapat digunakan sendiri atau sebagai acuan terapi dengan konselor (Puspitasari, 2011).
Isi
Perilaku agresif dapat diartikan sebagai perilaku yang berupa luapan emosi seseorang dari reaksi atas kegagalan individu yang ditunjukkan seseorang dengan pengrusakan atau kekerasan terhadap orang lain maupun benda yang dilakukan secara sengaja yang diekspresikan dengan kata-kata maupun perilaku (Yanizon, 2019).
Regulasi emosi berperan untuk memodulasi ekspresi emosi dalam berinteraksi dengan orang lain sesuai dengan aturan sosial. Penelitian longitudinal menunjukkan bahwa ketidakmampuan untuk meregulasi emosi merupakan faktor risiko penting dalam pembentukan perilaku agresif (Roll, Koglin, Petermann, 2012).
Tujuan dari regulasi emosi ini bukan untuk menekan emosi yang akan diekspresikan, tetapi mengendalikan luapan-luapan emosi yang dirasa akan hilang kendali agar kestabilan emosi tetap terjaga (Goleman, 2002).
Bibliotherapy merupakan salah satu metode yang dapat membantu regulasi emosi. Bibliotherapy terbentuk dari dua kata: biblio, berasal dari bahasa Yunani, biblus (buku), dan therapy, menunjuk pada bantuan psikologis. Secara sederhana, bibliotherapy didefinisikan sebagai penggunaan buku untuk membantu orang mengatasi masalahnya (Herlina, 2012).
Bibliotherapy mempunyai bentuk area utama, yaitu kognitif dan afektif (scechtman, 2009). Sedangkan Rhea J. Rubin dalam Kruszewski (2019) membagi biblioterapi dalam dua kategori, yaitu developmental atau humanistic bibliotherapy (digunakan untuk latar pendidikan) dan therapeutic bibliotherapy (digunakan untuk latar kesehatan mental).
Bibliotherapy kognitif mempersepsikan proses belajar sebagai mekanisme utama dari perubahan, dan material tertulis nonfiksi untuk mendidik individu dipilih sebagai bentuk treatment (Tallman & Bohart, 1999), dan biasanya diadministrasikan sebagai terapi bantu diri (self-help therapy), tanpa atau dengan sedikit kontak terapis.
Sedangkan bibliotherapy afektif menunjuk pada penggunaan material tertulis untuk membuka pikiran, perasaan,dan pengalaman, pembaca secara emosional terlibat dalam perjuangan dan pada akhirnya mencapai insight bagi situasi dirinya sendiri (Shrodes, 1957).
Agar proses identifikasi tersebut terjadi, diperlukan bacaan fiksi, sehingga bisa mencerminkan dilema seseorang dan membantunya terhubung dengan emosi dan rasa sakit dalam kadar ketakutan yang minimal (Gladding, 2005). Karena bibliotherapy afektif berkaitan dengan emosi dan pengalaman mendalam, makasangat membutuhkan keterlibatan terapis.
Metode membaca yang melibat terapis disebut shared book reading (SBR). SBR dapat didefinisikan sebagai metode interaktif di dalam membacakan buku dengan nyaring dimana dorongan orang dewasa membuat anak terlibat akan percakapan mengenai buku (Milburn, 2014).
Kesimpulan
Bibliotherapy bermanfaat dalam regulasi emosi anak sehingga mengurangi perilaku agresif pada anak. Jenis buku bacaan yang sesuai dengan usia dan masalah emosi anak dapat fiksi atau nonfiksi. Teknik membaca dengan dibacakan (shared book reading) dan membaca sendiri (self help book). Metode bibliotherapy dapat dilakukan secara mandiri atau dengan bantuan terapis.
————————————-
oleh : Parmadini Ratih | Puskesmas Purwokerto Selatan
————————————-

References
Eisenberg, N., & Fabes, R.A. (1992). Emotion, regulation, and the development of social competence. In M. S. Clark (Ed.), Review of personality and social psychology. Emotion and Social Behavior (Vol. 14, pp. 119–150). Newbury Park, CA: Sage
Goleman, D. (2002). Kecerdasan Emosional. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Gladding, S. T. (2005). Counseling as an art: The creative arts in counseling. Alexandria: American Counseling Association.
Gross, J. J. (2014). Emotion Regulation: Conceptual and Empirical Foundations. In J. J. Gross (Ed.), Handbook of Emotion Regulation (2nd ed., pp. 3–22). New York: The Guilford Press.
Heath, M. A., Sheen, D., Leavy, D., Young, E., & Money, K. (2005). Bibliotherapy: A resource to facilitate emotional healing and growth. School Psychology International, 26(5), 563–580. doi: 10.1177/0143034305060792
Herlina. (2013). Bibliotherapy: Mengatasi Masalah Anak dan Remaja melalui Buku. Bandung: Pustaka Cendekia Utama.
Jalongo, M. (1983). Bibliotherapy: Literature to promote socioemotional growth. The Reading Teacher, 36, 796-802.
Kar.John T.Pardeck & Jean A.Pardeck. (1993). Bibliotherapy: A Clinical Approach for Helping Children. Amsterdam: Gordon and Breach Science Publishers S.A.
Kim-Spoon, J., Cicchetti, D., & Rogosch, F. A. (2013). A longitudinal study of emotion regulation, emotion lability–negativity, and internalizing symptomatology in maltreated and nonmaltreated children. Child Development, 84, 512–527.
Kopp, C. B. (1989). Regulation of distress and negative emotions: A developmental view. Developmental Psychology, 25, 343–354. doi:10.1037/0012- 1649.25.3.343.
Kruszewski, T. (2019). Psychological Techniques of Children’s Library Work with Personal Difficulties. 6(1), 16–21. Retrieved from https://dergipark.org.tr/en/pub/ad/issue/46328/57659
Milburn, C. (2011). More teachers but fewer staying the course. Sydney Morning Herald. Retrieved on November 12, 2018 from http://scholarworks.uni.edu/hpt/216 http://www.smh.com.au/national/education/more-teachersbut-fewer-staying-the-course- 20110306-1bhuv.html.
Newman, K. (2015). “Bibliotherapy as an Intervention for Aggressive Elementary Children”. Thesis (Unpublished). Department of Counseling Psychology and Special Education, Brigham Young
Papalia, D., R. Feldman, G. Martorell (2014). Experience Human Development 13th ed. New Jersey. McGraw-Hill
Pardeck, J. T., & Pardeck, J. A. (1984). Young people with problems: A guide to bibliotherapy. Westport: Greenwood Press.
Puspitasari, D. A. (2011). Pengaruh biblioterapi afektif untuk menurunkan agresivitas siswa kelas empat. Universitas Gadjah Mada.
Rubin, R. J. (Ed.). (1978). Bibliotherapy sourcebook. Phoenix: The Oryx Press.
Roll, J. ,Koglin, U&Petermann, F (2012). Emotion Regulation and Childhood Aggression: Longitudinal Associations. Child Psychiatry Hum Dev. DOI 10.1007/s10578012-0303-4
Santrock, J. W. (2011). Masa Perkembangan Anak: Children (Edisi Kesebelas).Jakarta: Erlangga.
Shechtman, Z. (2009). Treating child and adolescent aggression through bibliotherapy. New York, NY: Springer Science+Bussiness Media.
Shrodes, C. (1950). Bibliotherapy: A theoretical and clinical-experimental study. Unpublished dissertation, University of California, Berkeley: Berkeley, CA.
Thompson, R. (1994). Emotion regulation: A theme in search of a definition. In F. Fox (Ed.), The development of emotion regulation. Monographs of the Society for Research in Child Development, 59 (2–3), (pp. 25– 52).
Yanizon, Ahmad, & Sesriani, Vina. (2019). Penyebab Munculnya Perilaku Agresif pada Remaja. Jurnal KOPASTA, 6(1), 2019 23-36
Yuliawati, R. (2011). Bimbingan dan konseling berbasis layanan bibliotherapy: Upaya sekolah dalam pengembangan perpustakaan. Visipustaka, 13(3). Retrieved from http://dev.perpusnas.go.id/magazine/layanan-bimbingan-dan-konseling-berbasis-biblioterapi-sebuah-upaya-pengembangan-perpustakaan-sekolah/.

