Game online merupakan hal yang sangat populer, sedikitnya satu orang main game video pada dua-pertiga rumah tangga di AS, menurut Entertainment Software Association. Sedikitnya 160 juta orang dewasa di AS memainkan game berbasis internet, estimasi dari sebuah penelitian. Game tersebut sangat menghibur, dan sangatlah mudah untuk terserap ke dalam kompetisi, namun apakah game internet bisa mengakibatkan adiksi? Pertanyaan tersebut masih menjadi debat di antara para peneliti dan tenaga kesehatan, namun bukti awal menunjukkan bahwa game video merupakan salah satu teknologi yang sangat membuat ketagihan. Faktanya, penelitian baru menunjukkan bahwa telah banyak perawatan yang aman dan efektif digunakan untuk pengobatan adiksi video game.

Game internet dalam DSM-5
Adiksi game dijelaskan dalam the American Psychiatric Association’s Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5-TR), yang digunakan oleh tenaga kesehatan jiwa profesional untuk mendiagnosis gangguan kejiwaan. Dalam DSM-5-TR, kondisi ini disebut sebagai Gangguan Game Internet (Internet Gaming Disorder; IGD). IGD masuk ke dalam bagian yang merekomendasikan kondisi untuk penelitian lebih lanjut, bersama dengan gangguan penggunaan kafein dan kondisi lainnya.
DSM-5-TR meliputi gangguan adiksi terkait narkoba, seperti alkohol, tembakau, stimulant, ganja, dan opioid. gangguan game merupakan satu-satunya adiksi perilaku (berbeda dengan gangguan penggunaan zat kimia) yang diidentifikasikan dalam DSM-5-TR.
DSM-5-TR mencatat bahwa IGD harus menyebabkan “gangguan atau tekanan yang signifikan” dalam sejumlah aspek kehidupan seseorang. Kondisi yang diusulkan ini terbatas pada game dan tidak mencakup masalah dengan penggunaan umum internet, judi online, atau penggunaan media sosial dan ponsel pintar. Gejala game internet meliputi:
- Keasyikan bermain game
- Gejala putus asa ketika permainan dihentikan atau tidak memungkinkan (sedih, cemas, mudah tersinggung)
- Toleransi, kebutuhan untuk menghabiskan lebih banyak waktu bermain game untuk memuaskan hasrat
- Ketidakmampuan untuk mengurangi bermain, upaya yang gagal untuk berhenti bermain game
- Meninggalkan aktivitas lain, kehilangan minat pada aktivitas yang sebelumnya dinikmati Terus bermain game meskipun ada masalah
- Berbohong kepada anggota keluarga atau orang lain tentang jumlah waktu yang dihabiskan untuk bermain game
- Menggunakan game untuk meredakan suasana hati negatif, seperti rasa bersalah atau putus asa
- Risiko, membahayakan atau kehilangan pekerjaan atau hubungan karena bermain game
Dibawah kriteria yang diusulkan, diagnosis atas gangguan game internet akan tegak ketika terdapat lima atau lebih gejala yang tersebut di atas dalam setahun. Kondisi ini mencakup bermain game internet sendiri atau dengan yang lainnya.
Perspektif internasional
WHO memasukkan gangguan game ke dalam the 11th Revision of the International Classification of Diseases (ICD-11). Dalam ICD-11, gangguan game didefinisikan sebagai “pola perilaku terkait game (“game digital” atau “game video”) yang dikarakterisasikan dengan gangguan kendali terhadap game, peningkatan prioritas terhadap game dibandingkan dengan aktivitas lain sehingga game lebih diutamakan daripada minat dan aktivitas harian lainnya, dan berlanjutnya atau meningkatnya internsitas bermain meskipun terdapat konsekuensi negatif.”
Penelitian masih terus dilakukan
Apakah game internet bisa diklasifikasikan sebagai adiksi/gangguan jiwa masih menjadi bahan perdebatan dan penelitian yang terus berkembang. Terdapat penelitian neurologis yang menunjukkan kesamaan dalam perubahan di otak antara game video dan adiksi narkoba.
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam American Journal of Psychiatry pada bulan Maret 2017 bertujuan untuk menilai validitas dan reliabilitas kriteria gangguang game internet, membandingkannya dengan penelitian tentang adiksi judi dan game bermasalah, serta mengestimasi dampaknya terhadap fisik, sosial, dan kesehatan jiwa. Penelitian tersebut menemukan bahwa diantara orang yang bermain game, kebanyakan dari mereka tidak melaporkan adanya gejala gangguan game internet dan persentase orang yang mungkin masuk kriteria gangguan game internet sangat kecil.
Penelitian tersebut melibatkan sejumlah studi pada orang dewasa yang tinggal di AS, Inggris, Kanada, dan Jerman. Para peneliti menemukan lebih dari 86% orang dewasa muda berusia 18 – 24 tahun dan lebih dari 65% seluruh orang dewasa pernah bermain game online. Persentase pria dan wanita yang baru-baru ini bermain game kurang lebih sama. Namun, penelitian ini masih belum dapat menjelaskan apakah mereka yang memenuhi kriteria gangguan game internet memiliki kesehatan emosional, fisik, dan mental yang lebih buruk dibandingkan mereka yang tidak memenuhi kriteria.
Para peneliti menemukan bahwa 0,3 – 1,0% dari populasi umum mungkin memenuhi syarat untuk diagnosis potensial gangguan game internet. Para penulis menyarankan adanya perbedaan penting antara keterlibatan yang penuh gairah (seseorang yang antusias dan fokus pada game) dan patologi (seseorang dengan penyakit/kecanduan). Apakah orang tersebut merasa tertekan dengan permainannya mungkin menjadi faktor kunci yang membedakan keduanya.
Akan tetapi, hasil penelitian terbaru, termasuk penelitian potong-lintang yang dilaksanakan pada tahun 2022, menemukan bahwa prevalensi IGD cukup tinggi, khususnya ketika dibandingkan dengan adiksi perilaku lainnya. Beragam penelitian melaporkan bahwa insidens IGD meningkat tajam selama pandemic COVID.
Penelitian dan debat masih terus berlanjut. Sejumlah pihak, contohnya, berargumen bahwa game bisa jadi merupakan gejala dari masalah yang mendasari, seperti depresi atau kecemasan, dan bukan gangguan atau adiksi. Bahkan ketika para ahli masih terus berdebat, cerita-cerita individu di media menunjukkan adanya perlawanan dan kehancuran akibat fenomena tersebut.
Sebuah artikel dalam Proceedings of the National Academy of Sciences merangkum perdebatan terkini: “menambahkan video game ke dalam daftar adiksi perilaku dapat membantu jutaan orang yang memerlukan bantuan. Hal ini juga dapat mempatologiskan perilaku sehat dan menciptakan stigma baru.”
Jika Anda khawatir tentang diri Anda atau orang yang Anda cintai, konsultasikan dengan penyedia layanan kesehatan atau tenaga kesehatan jiwa profesional.
Sumber: https://www.psychiatry.org/Patients-Families/Internet-Gaming

