HIV dan Penggunaan Narkoba

Apa hubungan antara HIV dan penggunaan narkoba?

Penggunaan narkoba merujuk pada penggunaan zat rekreasi dan alkohol, serta penyalahgunaan obat resep dan obat yang dijual bebas. Contoh dari tiap zat sebagai berikut:

  • Alkohol: bir, anggur, minuman keras
  • Zat rekreasi: opioid (mis. heroin), metamfetamin (meth), kokain, dan inhalan (popper)
  • Obat resep: stimulan (mis. Adderall), depresan (mis. Xanax), penghilang nyeri golongan opioid (mis. Vicodin), dan obat tidur (mis. Ambien)
  • Obat yang dijual bebas: obat batuk dan laksatif (untuk menurunkan berat badan)

Penggunaan narkoba berkaitan dengan HIV:

  • Penggunaan alkohol dan zat rekreasi dapat mengarah ke perilaku tidak aman yang dapat meningkatkan risiko tertular HIV atau menularkannya ke orang lain (penularan HIV)
  • Sejumlah obat resep dan obat yang dijual bebas juga dapat menyebabkan perilaku yang tidak aman ketika disalahgunakan, termasuk stimulan dan penghilang nyeri golongan opioid
  • Penggunaan zat rekreasional dan alkohol dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh dan merusak hati.

Bagaimana penggunaan narkoba dapat meningkatkan risiko penularan HIV?

Penggunaan narkoba dan alkohol dapat mempengaruhi otak (seperti fungsi memori, atensi, dan nalar) serta mengganggu proses berpikir jernih dan pengambilan keputusan, yang dapat membuat seseorang berperilaku berisiko tertular HIV.

Sama halnya dengan penggunaan narkoba dan alkohol, penggunaan obat resep dan obat yang dijual bebas untuk tujuan selain yang diresepkan, dalam jumlah berlebihan, atau dalam waktu lebih lama dari yang diresepkan dapat mempengaruhi proses berpikir dan pengambilan keputusan.

Sejumlah perilaku dapat meningkatkan risiko tertular atau menularkan HIV. Contoh, orang yang mengonsumsi alkohol atau narkoba kemungkinan melakukan hubungan seksual tanpa kondom atau berbagi jarum suntik ketika menyuntikkan narkoba.

Di AS, rute utama penularan HIV melalui:

  • Berhubungan seks anal atau vaginal dengan seseorang yang terinfeksi HIV tanpa menggunakan kondom atau minum obat untuk mencegah penularan atau pengobatan HIV.
  • Berbagi peralatan menyuntik, seperti jarum suntik, dengan seseorang yang terinfeksi HIV

Penggunaan atau penyalahgunaan narkoba dapat membuat orang melakukan perilaku yang berisiko. Untuk ODHIV, perilaku berisiko meningkatkan risiko penularan HIV ke orang lain. Untuk orang yang tidak terinfeksi HIV, perilaku berisiko meningkatkan risiko mereka tertular HIV.

Selain itu, penggunaan atau penyalahgunaan narkoba dapat meningkatakan risiko penularan infeksi menular seksual (IMS) lainnya, bukan hanya HIV. Baca lembar fakta mengenai “HIV and Sexually Transmitted Infection” (https://hivinfo.nih.gov/understanding-hiv/fact-sheets/hiv-and-sexually-transmitted-infections-stis; tautan ke terjemahan lengkap: https://yayasanabhipraya.com/2025/05/16/hiv-dan-infeksi-menular-seksual-ims/) untuk informasi lebih lanjut.

Bagaimana penggunaan narkoba mempengaruhi ODHIV?

Penggunaan narkoba dapat membahayakan kesehatan ODHIV melalui sejumlah cara, seperti melemahkan sistem kekebalan tubuh, menurunkan fungsi hati, atau interaksi antara narkoba dan obat HIV, disebut dengan interaksi obat.

Narkoba, alkohol, dan sistem kekebalan tubuh

HIV merusak sistem kekebalan tubuh, membuat tubuh sulit melawan infeksi dan jenis kanker tertentu. Meskipun obat HIV membantu meningkatkan fungsi sistem kekebalan tubuh, alkohol dan narkoba dapat merusak efek tersebut.

Jika kerusakan sistem kekebalan tubuh terus terjadi dalam waktu lama atau memburuk, ODHIV menjadi lebih rentan terhadap infeksi oportunistik. Baca lembar fakta HIVinfo mengenai “What is an Opportunistic Infection?” (https://hivinfo.nih.gov/understanding-hiv/fact-sheets/what-opportunistic-infection; tautan ke terjemahan lengkap: https://yayasanabhipraya.com/2025/04/23/infeksi-oportunistik-io/) untuk informasi lebih lanjut.

Narkoba, alkohol, dan kerusakan hati

Salah satu fungsi utama hati adalah menghilangkan zat-zat berbahaya (toksin) dari darah. Toksin dihasilkan ketika hati memecah bahan kimia dalam narkoba atau alkohol.

penggunaan narkoba dan konsumsi alkohol dapat merusak hati, membuat hati kesulitan menghilangkan toksin dalam tubuh. Timbunan toksin dapat melemahkan tubuh dan mengakibatkan penyakit hati, seperti hepatotoksisitas. Baca lembar fakta “HIV and Hepatotoxicity” (https://hivinfo.nih.gov/understanding-hiv/fact-sheets/hiv-and-hepatotoxicity; tautan ke terjemahan lengkap: https://yayasanabhipraya.com/2024/09/04/hiv-dan-hepatotoksisitas/) untuk informasi lebih lanjut.

Interaksi dengan obat HIV

Interaksi obat antara obat HIV dengan zat rekreasional dapat meningkatkan risiko efek samping yang berbahaya. Contoh, overdosis berhubungan dengan interaksi antara sejumlah obat HIV dengan zat rekreasional, seperti MDMA (ekstasi) atau obat penghilang nyeri.

Sejumlah obat resep juga memiliki interaksi berbahaya dengan obat HIV, khususnya jika digunakan berlebihan. Hal ini khususnya benar untuk sejumlah obat HIV dari golongan protease inhibitor. Seorang dokter akan memastikan bahwa kombinasi obat (seperti obat HIV dan obat anti-cemas) aman ketika dikonsumsi sesuai anjuran.

Narkoba, alkohol, dan konsistensi pengobatan

ODHIV mengonsumsi kombinasi obat HIV (disebut rejimen pengobatan HIV) dengan jadwal minum obat yang ketat. Penggunaan narkoba atau konsumsi alkohol dapat membuat ODHIV sulit untuk fokus dan mematuhi jadwal minum obat HIV. Melewatkan jadwal minum obat HIV membuat virus tersebut menggandakan diri dan merusak sistem kekebalan tubuh.

Siapa yang paling terpengaruh oleh penggunaan narkoba dan HIV?

Meskipun HIV dan penggunaan narkoba dapat mempengaruhi setiap orang, penelitian menunjukkan bahwa sejumlah orang memiliki peningkatan risiko penggunaan narkoba dan/atau terinfeksi HIV. Contohnya meliputi:

  • Remaja dan dewasa muda (usia 13 – 24 tahun)
  • Memiliki gangguan kesehatan mental
  • Tidak memiliki perumahan yang tetap
  • Pernah atau sedang di penjara
  • Lelaki seks dengan lelaki
  • Melakukan hubungan seks untuk mendapatkan uang
  • Menyuntikkan narkoba

Dengan memahami orang yang terdampak HIV dan penggunaan narkoba, kita mendukung upaya pencegahan yang efektif dan menghubungkan orang yang terdampak dengan perawatan yang tersedia.

Langkah apa yang dapat Anda lakukan untuk mengurangi risiko kesehatan dari penggunaan narkoba?

Jika Anda atau pasangan seksual Anda menggunakan narkoba atau mengonsumsi alkohol

  • Jangan melakukan hubungan seksual jika Anda atau pasangan seksual Anda sedang dalam pengaruh narkoba atau alkohol.
  • Gunakan kondom secara tepat setiap kali Anda berhubungan seksual. Baca lembar fakta berikut “how to use a condom” (https://www.cdc.gov/condom-use/resources/external.html) dengan tepat di website CDC.

Jika Anda mengonsumsi alkohol

  • Konsumsi alkohol secukupnya. Konsumsi moderat setara dengan satu gelas per hari untuk wanita dan hingga dua gelas per hari untuk pria. Satu gelas setara dengan sebotol bir 12 ons, segelas anggur 5 ons, atau satu sloki minuman keras 1,5 ons.
  • Kunjungi Rethinking Drinking, situs web dari National Institute on Alcohol Abuse and Alcoholism (NIAAA). Situs web ini dapat membantu Anda mengevaluasi kebiasaan minum dan mempertimbangkan bagaimana alkohol dapat memengaruhi kesehatan Anda.

Jika Anda menggunakan narkoba

  • Gunakan hanya perangkat menyuntik dan jarum suntik baru setiap kali Anda menggunakan narkoba suntik.
  • Jangan pernah berbagi jarum suntik atau perangkat menyuntik dengan orang lain. Layanan Jarum Suntik Steril (LJSS) menyediakan jarum suntik steril bagi pengguna narkoba suntik.
  • Kunjungi situs web CDC mengenai “injection drug use” untuk informasi lebih lanjut mengenai cara mengurangi risiko tertular atau menularkan HIV dari penggunaan narkoba suntik.

Jika pasangan seksual menggunakan narkoba suntik

  • Beri masukan pada pasangan Anda untuk melakukan tes HIV secara teratur (misalnya setiap 3 bulan).
  • Pastikan mereka tidak pernah berbagi jarum suntik dengan orang lain sebelum Anda berhubungan seks. Selalu gunakan kondom terlepas dari jawaban mereka.
  • Pertimbangkan untuk mengonsumsi profilaksis pra-pajanan (pre-exposure prophylaxis; PrEP) jika mereka tidak tahu jika mereka terinfeksi HIV.

Terapi, obat-obatan, dan metode lain juga tersedia untuk membantu Anda untuk berhenti atau menurunkan dosis penggunaan narkoba atau konsumsi alkohol. Anda dapat berkonsultasi dengan konselor atau dokter mengenai pilihan berhenti yang tepat untuk Anda.

Anda dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mental profesional yang mendalami bidang adiksi, seperti psikiater, psikolog, atau tenaga sosial klinis untuk mendapatkan perawatan yang Anda butuhkan terkait penggunaan narkoba.

Apa yang harus Anda lakukan jika Anda terpapar HIV dari penggunaan narkoba?

Orang yang mengonsumsi PrEP ketika terpapar HIV tidak perlu melakukan apapun selama mereka minum obat PrEP sesuai anjuran. Namun, mereka harus minum obat PrEP sesuai jadwal dan melakukan tes rutin HIV seperti yang dianjurkan oleh dokter mereka.

Jika Anda tidak minum obat PrEP atau melewatkan dosis, profilaksis pasca-paparan (post-exposure prophylaxis; PEP) harus dimulai sesegera mungkin setelah terpapar – dalam waktu 72 jam (3 hari) setelah terpapar. Jika PEP tidak segera dimulai dalam kurun waktu tersebut, sebaiknya lakukan tes HIV.

Tidak ada tes HIV yang dapat mendeteksi HIV langsung setelah paparan terjadi. Waktu jendela, atau waktu antara paparan HIV dan ketika tes dapat mendeteksi HIV, beragam mulai dari 10 hingga 90 hari, bergantung pada jenis tes yang dilakukan. Dokter Anda dapat membantu menjadwalkan tes HIV berdasarkan pada jenis tes yang tersedia.

Anda akan mulai minum obat HIV sebagai bagian dari perawatan HIV ketika hasil tes HIV positif. Baca “When to start taking HIV medicines” (https://hivinfo.nih.gov/understanding-hiv/fact-sheets/when-start-hiv-medicines; tautan ke terjemahan lengkap: https://yayasanabhipraya.com/2024/07/05/kapan-odhiv-harus-memulai-obat-hiv/) untuk informasi lebih lanjut.

Poin-Poin Penting: Penggunaan narkoba merujuk pada penggunaan narkoba dan alkohol dan mencakup penyalahgunaan obat resep atau obat yang dijual bebas.Penggunaan narkoba mengarah pada perilaku yang tidak aman (seperti berhubungan seks tanpa menggunakan kondom atau berbagi jarum suntik bekas pakai) yang meningkatkan kecenderungan terinfeksi HIV atau menularkan virus tersebut ke orang lain.Penggunaan narkoba dapat membahayakan kesehatan ODHIV dengan melemahkan sistem kekebalan tubuh, merusak hati, mengganggu jadwal minum obat HIV, dan bereaksi dengan obat HIV.  

Tautan ke artikel asli: https://hivinfo.nih.gov/understanding-hiv/fact-sheets/hiv-and-substance-use

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *