Steroid Anabolik dan Appearance and Performance Enhancing Drugs (APEDs) Lainnya

Seri 8: Tes steroid anabolik pada atlit

Tes steroid anabolik pada atlit

Meskipun penyalahgunaan steroid anabolik banyak dilakukan oleh orang yang bukan atlit angkat beban, penggunaan sesekali zat tersebut oleh atlit Olympics and profesional untuk meningkatkan performa atau berbuat curang dalam kompetisi (doping) justru meningkatkan kesadaran akan penyalahgunaan steroid. The World Anti-Doping Agency (WADA) didirikan pada tahun 1999 untuk menerapkan kebijakan anti-doping secara konsisten di berbagai organisasi olahraga dan pemerintah di seluruh dunia. Organisasi-organisasi yang tidak mematuhi aturan tersebut dapat dikenakan sanksi seperti pembatalan acara, penghentiaan pendanaan dari WADA, atau hilangnya kesempatan menjadi penyelenggara acara-acara terkait.

Tes doping mengalami penyempurnaan melalui kemampuan untuk mendeteksi pelanggaran anti-doping, yang mengakibatkan peningkatan jumlah pelanggaran yang tercatat dalam beberapa tahun terakhir. Contoh, penemuan metabolit steroid jangka panjang telah memperpanjang rentang waktu deteksi zat tersebut dalam tubuh. Hal tersebut menyulitkan atlit untuk lolos tes doping hanya dengan menghentikan penggunaan steroid sesaat sebelum pertandingan. Selain itu, penggunaan teknologi yang jauh lebih sensitif memungkinkan deteksi metabolit pada ambang batas metabolit terendah.

Olahraga dengan Angka Pelanggaran Aturan Anti-Doping Terbanyak Pada Tahun 2015

Source: WADA. 2015 Anti-Doping Rule Violations (ADRVs) Report. 2017.

Meskipun prosedur tes doping berlaku untuk menghindari penggunaan steroid oleh atlit profesional dan Olympic, narkotika jenis baru terus bermunculan dan dapat lolos dari deteksi serta membuat atlit dapat berlaku curang sebelum tes doping dilakukan. Untuk mendeteksi penggunaan awal steroid disainer dan memberikan standar acuan yang lebih akurat bagi setiap atlit, laboratorium pengujian menyimpan data dari setiap sampel tes doping. Sampel tersebut kemudian digunakan sebagai titik rujukan untuk tes mendatang sehingga menghilangkan kemungkinan seseorang dinyatakan positif hanya karena memiliki kadar testosteron yang tinggi secara alami dibandingkan dengan populasi umum. Penggunaan steroid desainer dalam jangka panjang menekan kadar steroid endrogen dalam sampel urin, yang dapat menjadi indikasi awal bahwa seorang atlit menggunakan steroid desainer.

Berdasarkan ketentuan WADA, para atlit bertanggung jawab atas keberadaan zat terlarang apapun dalam sampel mereka, terlepas dari apakah zat tersebut terdapat dalam tubuhnya secara sengaja atau tidak sengaja. Namun demikian, sanksi dapat dikurangi atau ditiadakan jika atlit dapat membuktikan bahwa keberadaan zat tersebut bukan karena kesalahan atau kelalaian dari pihaknya, atau dalam situasi tertentu dimana atlit tersebut tidak berniat untuk meningkatkan performa.

Tes doping dan suplemen gizi

Atlit yang menggunakan suplemen gizi yang dijual bebas mungkin percaya bahwa suplemen tersebut aman digunakan. Namun, suplemen gizi tidak mengikuti persyaratan pra-persetujuan dan uji kualitas yang sama seperti obat-obatan yang disetujui oleh FDA. Contoh, sejumlah suplemen gizi yang diiklankan untuk membantu menurunkan berat badan ditemukan mengandung sejumlah stimulan terlarang seperti efedrin atau klenbuterol. Penelitian lain menunjukkan bahwa suplemen gizi terkadang mengandung prohormon atau steroid anabolik. Dalam sebuah penelitian yang meneliti 634 suplemen gizi dari 13 negara, 15% mengandung sejumlah prohormon yang tidak tercantum dalam labelnya. Penelitian lainnya menunjukkan bahwa sejumlah zat terlarang yang tidak tercantum pada label dapat dideteksi melalui tes narkotika hingga 144 jam setelah penggunaannya.

Suplemen gizi terkadang mengandung zat terlarang yang tidak tercantum dalam labelnya. FDA memperingatkan agar konsumen harus berhati-hati jika menemukan produk dengan salah satu kriteria berikut:

  • produk yang mengklaim sebagai alternatif bagi obat-obatan yang disetujui FDA atau memiliki efek serupa dengan obat resep
  • produk yang mengklaim sebagai alternatif legal untuk steroid anabolik
  • produk yang dipasarkan menggunakan bahasa asing atau dipasarkan melalui surel massal
  • produk peningkat performa seksual yang menjanjikan efek cepat—seperti mulai bekerja dalam hitungan menit hingga jam—atau efek tahan lama, misalnya selama 24 hingga 72 jam
  • produk yang mencantumkan peringatan mengenai risiko hasil tes positif pada tes doping

Tautan ke materi lengkap:

NIDA. 2024, July 11. Anabolic Steroids and Other Appearance and Performance Enhancing Drugs (APEDs). Retrieved from https://nida.nih.gov/research-topics/anabolic-steroids on 2026, June 24

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *