HIV dan COVID-19

Apa itu COVID-19?

COVID-19 disebabkan oleh virus yang disebut dengan severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) dan dapat menular dari orang ke orang. Jalur penularan utama SARS-CoV-2 adalah ketika seseorang menghirup droplet atau partikel pernapasan yang mengandung virus tersebut atau ketika seseorang menyentuh selaput lender (lapisan lembab pada sejumlah organ dan rongga tubuh) dengan tangan yang telah terkontaminasi dengan virus tersebut.

Apa hubungan antara COVID-19 dan HIV?

Setiap orang berisiko tertular SARS-CoV-2 dan menjadi sangat sakit bahkan meninggal akibat COVID-19. Akan tetapi, orang dengan kondisi medis yang mendasari atau mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah cenderung lebih mudah sakit parah, dirawat inap, memerlukan perawatan intensif, butuh ventilator untuk bernapas, atau meninggal karena COVID-19.

ODHIV cednerung memiliki kondisi medis yang mendasari (disebut dengan komorbiditas) karena HIV melemahkan sistem kekebalan tubuh. Komorbiditas tersebut dapat menyebabkan ODHIV menjadi lebih sakit jika mereka terinfeksi SARS-CoV-2, khususnya jika mereka memiliki HIV stadium lanjut atau yang tidak diobati.

Bagaimana ODHIV dapat menurunkan risiko tertular COVID?

Setiap orang, termasuk ODHIV, harus mematuhi protokol kesehatan umum tentang cara melindungi diri dan orang lain dari COVID-19 (https://www.cdc.gov/covid/prevention/index.html). ODHIV juga dapat melindungi diri dari tertular COVID-19 dengan cara:

  • Mempertahankan pola hidup sehat
  • Teratur minum obat HIV sesuai anjuran dokter
  • Memastikan bahwa vaksinasi COVID-19 mereka sudah diperbarui

Apakah ODHIV perlu mendapatkan vaksin COVID-19?

Terdapat sejumlah vaksin COVID-19 yang telah disetujui penggunaannya oleh FDA bagi penggunaan kedaruratan di AS. Meskipun orang yang telah divaksinasi dapat terinfeksi COVID-19, vaksinasi menurunkan risiko sakit parah, rawat inap,  dan kematian yang disebabkan oleh COVID-19.

CDC merekomendasikan agar setiap orang, termasuk ODHIV, mendapatkan vaksin COVID-19. Dosis tambahan vaksin COVID-19 dapat direkomendasikan berdasarkan pada kondisi individual seseorang, seperti mereka yang berusia 65 tahun ke atas atau mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah atau sangat lemah akibat HIV stadium lanjut atau HIV yang tidak diobati.

Meskipun perlindungan  vaksin COVID-19 menurun sejalan waktu, vaksin COVID-19 yang diperbarui telah tersedia. Orang yang sebelumnya sudah menerima vaksiin COVID-19  sebaliknya melakukan vaksin COVID-19 yang terbaru untuk melanjutkan perlindungan terhadap virus tersebut.

Apakah vaksin COVID-19 aman bagi ODHIV?

Vaksin COVID-19 aman bagi ODHIV. ODHIV juga dilibatkan dalam uji klinis vaksin COVID-19. Vaksin COVID-19 memenuhi standar FDA untuk keamanan, efektivitas, dan kualitas.

Menurut CDC, tidak ada bukti bahwa vaksin COVID-19 menganggu pengobatan untuk mengobati atau mencegah HIV. Ini berarti bahwa ODHIV dapat memperoleh vaksin COVID-19 dan rejimen pengobatan HIV mereka akan tetap berjalan efektif.

Apa yang harus dilakukan ODHIV jika mereka merasa terinfeksi COVID-19?

ODHIV harus mematuhi rekomendasi CDC tentang gejala-gejala COVID-19 (https://www.cdc.gov/covid/signs-symptoms/) dan segera lakukan tes COVID-19. Seseorang dapat terinfeksi COVID-19 namun hanya menunjukkan sejumlah gejala atau tanpa gejala sama sekali (dikenal sebagai infeksi tanpa gejala). Tes COVID-19 merupakan satu-satunya cara untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi COVID-19.

Sebagian besar penyedia layanan kesehatan menawarkan tes COVID-19. Anda juga dapat melakukan tes COVID-19 melalui beberapa cara berikut:

  • Menjadwalkan tes COVID-19 di apotik atau klinik medis
  • Tes langsung di apotik
  • Tes cepat di rumah yang dapat dilakukan tanpa resep dokter

Kunjungi pusat layanan kesehatan terdekat untuk informasi mengenai COVID-19.

Apakah ada pengobatan untuk COVID-19?

Obat-obatan yang disetujui penggunaannya oleh FDA untuk pengobatan COVID-19 tersedia bagi ODHIV. Namun, sejumlah obat-obatan tersebut memiliki interaksi obat-obat dengan obat HIV tertentu.

Jika Anda ODHIV dan terinfeksi COVID-19, segera konsultasikan dengan dokter Anda, komunikasikan dengan dokter Anda mengenai obat HIV yang Anda minum serta pilihan pengobatan. Untuk mempelajari lebih lanjut mengenai interaksi obat-obat, baca lembar fakta HIVinfo “What is a Drug Interaction” (https://hivinfo.nih.gov/understanding-hiv/fact-sheets/what-drug-interaction) (tautan ke terjemahan artikel terkait: https://yayasanabhipraya.com/2024/08/14/apa-yang-dimaksud-dengan-interaksi-obat/).

Setelah memulai pengobatan COVID-19, teruskan minum obat HIV sesuai anjuran dokter. Sangat penting bagi ODHIV untuk tetap minum obat HIV sesuai anjuran dokter agar HIV tidak melemahkan sistem kekebalan tubuh dan menurunkan risiko terkena penyakit parah akibat COVID-19.

Poin-Poin Penting: COVID-19 disebabkan oleh virus yang disebut dengan severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) dan dapat menular dari orang ke orang. Setiap orang berisiko tertular SARS-CoV-2, namun ODHIV dengan kondisi yang mendasari atau komorbiditas lebih mungkin untuk sakit parah karena virus ini.Tes COVID-19 merupakan satu-satunya cara untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi COVID-19. Jika hasil tes Anda positif COVID-19, Anda harus berkonsultasi dengan dokter mengenai pilihan pengobatan.Vaksin COVID-19 aman dan efektif bagi ODHIV dan direkomendasikan tanpa melihat angka CD4 atau viral load.  

Tautan ke artikel asli: https://hivinfo.nih.gov/understanding-hiv/fact-sheets/hiv-and-covid-19

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *