Apakah HIV mempengaruhi laki-laki biseksual dan gay?
Di AS, laki-laki biseksual dan gay merupakan populasi yang paling banyak terdampak HIV. Menurut CDC, di tahun 2021, gay remaja dan dewasa, biseksual dan laki-laki yang melaporkan hubungan seksual laki-laki-dengan-laki-laki menyumbang 71% kasus baru HIV di AS dan wilayah dependan-nya.

Faktor apa saja yang menempatkan laki-laki biseksual dan gay berisiko tertular HIV?
Faktor yang menempatkan laki-laki biseksual dan gay berisiko tertular HIV:
- Hubungan seksual laki-laki dengan laki-laki. Dari semua kasus baru HIV di AS, 67% berasal dari biseksual, gay, dan laki-laki yang melaporkan hubungan seksual dengan laki-laki. Persentase tinggi dari semua laki-laki yang melakukan hubungan seksual dan terinfeksi HIV menandakan bahwa, sebagai satu kelompok, mereka memiliki kecenderungan tinggi terinfeksi HIV.
- Melakukan hubungan seksual tanpa menggunakan strategi pencegahan HIV. Sebagian besar laki-laki biseksual dan gay terinfeksi HIV melalui hubungan seks anal tanpa kondom atau tanpa minum obat untuk mencegah atau mengobati HIV (lihat PrEP di bawah ini). Hubungan seks anal merupakan jenis hubungan seksual yang paling berisiko tertular HIV atau menularkan virus tersebut ke orang lain (disebut penularan HIV).
- Homofobia, stigma, and diskriminasi. Perilaku negatif tentang homoseksualitas membuat laki-laki biseksual dan gay enggan menjalani tes HIV dan menemukan layanan kesehatan untuk mencegah dan mengobati HIV.
Apa saja langkah-langkah yang dapat dilakuan laki-laki biseksual dan gay untuk mencegah infeksi HIV?
Laki-laki biseksual dan gay dapat melakukan langkah-langkah berikut untuk mengurangi risiko tertular HIV:
Pilih perilaku seksual yang tidak berisiko.
Hubungan seks anal merupakan jenis hubungan seksual yang paling berisiko tertular atau menularkan HIV. Hubungan seks anal reseptif (bottoming) 13x lebih berisiko tertular HIV daripada hubungan seks anal insertif (topping).
Secara umum, hubungan seks oral berisiko lebih rendah menularkan HIV. Namun, sulit untuk mengetahui risiko pasti penularan karena banyak orang yang melakukan hubungan seks oral juga melakukan hubungan seks anal dan vagina. Infeksi menular seksual (IMS) lainnya, seperti sifilis, herpes, gonore, dan klamidia, dapat ditularkan melalui hubungan seks oral.
Batasi jumlah pasangan seksual
Semakin banyak pasangan seksual yang dimiliki, semakin besar kemungkinan Anda memiliki pasangan dengan HIV yang tidak terkendali atau memiliki pasangan dengan IMS. Kedua faktor tersebut meningkatkan kecenderungan penularan HIV. Terinfeksi IMS menimbulkan inflamasi atau luka terbuka yang membuat HIV lebih masuk melalui kulit. Sifilis, yang paling banyak terjadi pada laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki, dapat membuat Anda berisiko tinggi tertular HIV di masa depan.
Gunakan kondom secara tepat setiap kali Anda berhubungan seksual
Baca lembar fakta CDC mengenai cara tepat menggunakan kondom: How to use a condom
Pertimbangkan menggunakan post-exposure prophylaxis (PEP)
PEP adalah penggunaan obat HIV segera setelah kemungkinan paparan HIV untuk mencegah seseorang terinfeksi HIV. Contoh, orang dnegan HIV negatif dapat menggunakan PEP setelah melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan orang yang diketahui terinfeksi HIV. Agar obat tersebut bekerja efektif, PEP harus diminum dalam kurun waktu 72 jam setelah kemungkinan paparan HIV.
PEP digunakan untuk situasi darurat. PEP bukan pengganti PrEP atau untuk penggunaan reguler dari metode pencegahan HIV.
Untuk mempelajari lebih lanjut, baca lembar fakta HIVinfo tentang PEP: https://hivinfo.nih.gov/understanding-hiv/fact-sheets/post-exposure-prophylaxis-pep (tautan ke terjemahan artikel terkait: https://yayasanabhipraya.com/2024/06/21/post-exposure-prophylaxis-pep-profilaksis-pasca-pajanan/).
Lakukan tes HIV
Baik tes HIV Anda negatif atau positif, pada kedua kasus tersebut, Anda dapat melakukan hal untuk melindungi kesehatan Anda dan mencegah penularan HIV.
Seberapa sering tes HIV direkomendasikan untuk laki-laki biseksual dan gay?
CDC merekomendasikan bahwa seluruh gay, biseksual, dan laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki yang aktif secara seksual harus melakukan tes HIV setidaknya satu tahun sekali. Namun, bagi laki-laki biseksual dan gay yang aktif secara seksual (seperti mereka yang memiliki pasangan seksual lebih dari satu orang atau memiliki hubungan seksual kasual dengan orang yang tidak dikenal) dapat mendapatkan manfaat dari melakukan tes HIV lebih sering (contoh, setiap 3 – 6 bulan sekali).
Bagaimana cara gay dengan HIV melindungi pasangan seksualnya dari infeksi HIV?
Minum obat HIV setiap hari sesuai dengan anjuran dokter. Perawatan dengan obat HIV (yan disebut dengan terapi antiretroviral atau ART) direkomendasikan bagi setiap orang dengan infeksi HIV. ART tidak dapat menyembuhkan infeksi HIV, namun obat tersebut dapat mengurangi jumlah HIV dalam tubuh (disebut dengan viral load).
Tujuan utama ART adalah untuk mengurangi viral load seseorang menjadi tidak terdeteksi. Viral load yang tidak terdeteksi menandakan bahwa jumlah HIV dalam darah terlalu rendah untuk dapat diteksi oleh tes viral load.
- Orang dengan HIV (ODHIV) yang status viral load-nya selalu tidak terdeteksi tidak berisiko menularkan HIV kepada pasangan seksualnya yang HIV negatif melalui hubungan seksual.
- Mempertahankan status viral load “tidak terdeteksi” juga merupakan cara terbaik untuk tetap sehat. Penelitian terkini telah menunjukkan bahwa menunda pengobatan dapat meningkatkan risiko infeksi HIV berkembang menjadi AIDS dan penyakit serius lainnya.
Langkah lain yang dapat dilakukan adalah menggunakan kondom selama berhubungan seksual dan berbicara dengan pasangan Anda untuk menggunakan PrEP.
Poin-Poin Penting:
Di AS, laki-laki biseksual dan gay merupakan populasi yang paling banyak terdampak HIV.CDC merekomendasikan bahwa semua laki-laki biseksual dan gay yang aktif secara seksual harus melakukan tes HIV setidaknya sekali setahun. Namun, sejumlah laki-laki biseksual dan gay yang aktif secara seksual yang memiliki banyak pasangan seksual yang status HIV-nya tidak diketahui dapat melakukan tes HIV lebih sering (contoh: setiap 3 – 6 bulan sekali).Laki-laki biseksual dan gay yang aktif secara seksual yang HIV negatif namun berisiko tertular HIV harus mempertimbangkan pre-exposure prophylaxis (PrEP). PrEP diberikan ketika orang yang HIV negatif namun berisiko tertular HIV harus minum obat HIV setiap hari (pil) atau setiap dua bulan sekali (suntikan) untuk mengurangi risiko mereka tertular infeksi HIV. CDC melaporkan bahwa PrEP sangat efektif mencegah penularan HIV melalui hubungan seksual atau penggunaan narkoba suntik.
Tautan ke artikel asli: https://hivinfo.nih.gov/understanding-hiv/fact-sheets/hiv-and-gay-and-bisexual-men

