Apakah HIV mempengaruhi wanita?
Ya. Menurut data CDC tahun 2021, 18% kasus baru HIV yang terdiagnosis di AS dan wilayah dependen terjadi pada wanita. Selain itu, 54% wanita dengan HIV merupakan orang kulit hitam/ Afrika-Amerika.
Umumnya, wanita tertular HIV melalui hubungan seks tanpa menggunakan kondom dengan pasangan pria-nya yang terinfeksi HIV. Sebagian besar wanita dengan HIV tahu bahwa mereka positif HIV, namun sebagian dari mereka tidak mendapatkan perawatan dan pengobatan HIV yang diperlukan.

Faktor apa yang membuat wanita berisiko tertular HIV?
HIV dapat ditularkan dari satu orang ke orang lainnya melalui cairan tubuh seperti darah, cairan pra-mani, air mani, cairan vagina, cairan rektal, dan air susu ibu (ASI). Di AS, faktor risiko utama penularan HIV adalah sebagai berikut:
- Melakukan hubungan seks vagina atau anal dengan orang yang terinfeksi HIV tanpa menggunakan kondom atau minum obat HIV untuk mencegah atau mengobati HIV. Hubungan seks anal merupakan jenis hubungan seks yang paling berisiko menularkan HIV, karena lapisan rektum tipis dan memungkin HIV untuk masuk ke dalam tubuh melalui seks anal.
- Berbagi peralatan menyuntik, seperti jarum suntik, dengan orang yang terinfeksi HIV.
Pada wanita, sejumlah faktor tertentu meningkatkan risiko penularan HIV. Contoh, selama seks vagina atau anal, seorang wanita berisiko besar tertular HIV karena, umumnya, jenis kelamin reseptif lebih berisiko daripada jenis kelamin insertif. Faktor penipisan dan kekeringan pada vagina yang berkaitan dengan usia juga meningkatkan risiko penularan HIV pada wanita lanjut usia, karena kedua hal tersebut dapat menyebabkan robekan di vagina ketika berhubungan seks dan dapat menyebabkan penularan HIV. Risiko seorang wanita tertular HIV juga meningkat jika pasangannya melakukan perilaku berisiko tinggi HIV, seperti penggunaan narkoba suntik atau berhubungan seks dengan orang lain tanpa menggunakan kondom.
Apakah ada isu yang mempengaruhi perawatan HIV pada wanita?
Perawatan dengan obat HIV (dikenal dengan terapi antiretroviral atau ART) direkomendasikan bagi setiap ODHIV. Perawatan ini membantu ODHIV hidup lebih lama dan lebih sehat. ART juga mengurangi risiko penularan HIV.
ODHIV sebaiknya minum obat HIV sesegera mungkin setelah terdiagnosis HIV. Namun, pengendalian kelahiran dan kehamilan menjadi dua isu yang mempengaruhi perawatan HIV pada wanita.
Pengendalian Kelahiran
Sejumlah obat HIV mengurangi efektivitas alat kontraseptif hormonal, seperti pil KB, koyo, cincin, atau implan. Wanita yang mengonsumsi obat HIV tertentu dianjurkan untuk menggunakan alat KB tambahan atau bentuk alat KB lainnya. Untuk informasi lebih lanjut, lihat di infografik “HIV and Birth Control” (https://hivinfo.nih.gov/understanding-hiv/infographics/hiv-and-birth-control) dari HIVinfo.
Kehamilan
Wanita dengan HIV minum obat HIV selama kehamilan dan persalinan untuk mengurangi risiko transmisi HIV perinatal dan untuk melindungi kesehatan mereka. Lihat Lembar Fakta “Preventing Perinatal Transmission” (https://hivinfo.nih.gov/understanding-hiv/infographics/hiv-and-birth-control; tautan ke versi bahasa Indonesia: https://yayasanabhipraya.com/2024/12/12/mencegah-penularan-hiv-perinatal/) untuk informasi lebih lanjut.
Pilihan rejimen pengobatan HIV untuk digunakan selama kehamilan bergantung pada sejuimlah faktor, meliputi penggunaan obat HIV yang lalu maupun terkini, kondisi medis lainnya yang dimiliki, serta hasil tes drug-resistance. Umumnya, wanita hamil dengan HIV dapat menggunakan rejimen pengobatan HIV yang sama dengan yang direkomendasikan untuk orang dewasa yang tidak hamil – kecuali efek samping yang diketahui terhadap wanita hamil dan bayi yang dikandungnya lebih besar dampaknya dari rejimen pengobatan HIV tersebut.
Terkadang, rejimen pengobatan HIV seorang wanita dapat berubah selama kehamilan. Pasien dan penyedia layanan kesehatan sebaiknya mendiskusikan jika diperlukan perubahan terhadap rejimen pengobatan HIV selama kehamilan.
PrEP dan PEP untuk Wanita
Pre-exposure prophylaxis (PrEP) adalah obat HIV yang dikonsumsi untuk mengurangi risiko penularan infeksi HIV. PrEP digunakan oleh orang yang tidak terinfeksi HIV namun berisiko tinggi tertular HIV melalui hubungan seks atau penggunaan narkoba suntik.
Terdapat dua jenis obat PrEP yang disetujui penggunaannya untuk wanita:
- Truvada (atau obat generik setaranya), pil yang diminum setiap hari.
- Apretude, suntikan yang dilakukan setiap dua bulan sekali.
Dalam situasi gawat darurat, orang dapat minum obat post-exposure prophylaxis (PEP). PEP merupakan obat HIV yang diminum dalam kurun waktu 72 jam (3 hari) untuk mengurangi risiko tertular HIV setelah kemungkinan terpapar infeksi HIV.
Wanita sebaiknya berkonsultasi dengan penyedia layanan kesehatan untuk mempelajari tentang PrEP dan PEP dan cara melindungi diri mereka agar tidak tertular HIV. Lihat Lembar Fakta “Pre-exposure prophylaxis(PrEP)” (https://hivinfo.nih.gov/understanding-hiv/fact-sheets/pre-exposure-prophylaxis-prep; tautan ke versi bahasa Indonesia: https://yayasanabhipraya.com/2024/06/13/pre-exposure-prophylaxis-prep-profilaksis-pra-pajanan/) dan “post-exposure prophylaxis (PEP)” (https://hivinfo.nih.gov/understanding-hiv/fact-sheets/post-exposure-prophylaxis-pep; tautan ke versi bahasa Indonesia: https://yayasanabhipraya.com/2024/06/21/post-exposure-prophylaxis-pep-profilaksis-pasca-pajanan/) untuk informasi lebih lanjut mengenai kedua hal tersebut.
| Poin-Poin Penting: Berdasarkan data CDC tahun 2021, 18% kasus baru HIV yang terdiagnosis di AS dan wilayah dependen terjadi pada wanita.Umumnya, wanita tertular HIV melalui hubungan seks dengan pasangan pria-nya yang terinfeksi HIV. Selama hubungan seks oral ataupun vagina, seorang wanita berisiko tinggi tertular HIV, karena secara umum, jenis kelamin reseptif lebih berisiko dibandingkan jenis kelamin insertif (pria).Wanita dengan HIV mengonsumsi obat HIV selama kehamilan dan persalinan untuk mencegah transmisi HIV perinatal dan untuk melindungi kesehatan mereka. |
Tautan ke artikel asli: https://hivinfo.nih.gov/understanding-hiv/fact-sheets/hiv-and-women

