Trauma dan Stres (Seri – 2)

Hubungan trauma, stres, dan penggunaan narkoba

Apa hubungan antara trauma, stres, dan gangguan penggunaan narkoba?

Penelitian menunjukkan bahwa kejadian yang sangat penuh tekanan dan traumatis, seperti pelecehan, kekerasan, pengabaian, atau kematian orang yang dikasihi membuat seseorang lebih rentan mengalami gangguan penggunaan narkoba. Seseorang yang pernah mengalami trauma atau stres kronik mungkin menggunakan zat seperti narkoba dan alkohol sebagai bentuk pengobatan diri (self-medication). Mereka menggunakan narkoba sementara waktu untuk  mengatasi tekanan yang mereka rasakan atau mengatasi gejala penyakit mental seperti PTSD.

Stres traumatis juga dapat menyebabkan perubahan pada fungsi otak dan perilaku seseorang, yang membuat penggunaan narkoba cenderung menjadi adiksi. Hal ini khususnya benar pada periode awal kehidupan: penelitian menunjukkan bahwa pengalaman masa kecil yang buruk (adverse childhood experiences; ACEs) seperti kekerasan, pelecehan, pengabaian, atau pemicu stres di tahap awal kehidupan berkaitan dengan peningkatan kecenderungan mengalami gangguan penggunaan narkoba di kemudian hari.

Stres berat atau kronik juga dapat mempengaruhi sirkuit otak yang mengatur penghargaan, motivasi, dan pembelajaran; stres juga dapat meningkatkan rasa nagih (craving) seseorang dan menurunkan kemampuan mereka mengontol respons terhadap impuls. Adiksi mempengaruhi proses otak yang sama, yang menjadi alasan lain mengapa para peneliti berpikir stres meningkatkan kerentanan seseorang terhadap adiksi atau relaps (keadaan ketika seseorang yang abstinens dari penggunaan zat mulai menggunakannya kembali). Penelitian juga menunjukkan bahwa orang dengan adiksi memiliki gejala stres yang lebih berat.

Apakah trauma selalu membuat seseorang mengalami gangguan penggunaan narkoba?

Tidak setiap orang yang mengalami trauma akan mengalami adiksi. Genetika, lingkungan, riwayat keluarga akan adiksi, keparahan trauma, pengalaman buruk masa kecil, dan riwayat penggunaan narkoba di masa lalu merupakan faktor yang berkontribusi terhadap risiko seseorang mengalami gangguan penggunaan narkoba.

Faktor pelindung seperti karakteristik individu (optimisme) dan pengaruh lingkungan (hubungan keluarga dan teman sebaya yang sehat), serta intervensi pencegahan yang ditargetkan, dapat mengurangi risiko berkembangnya gangguan penggunaan narkoba. Baca lebih lanjut mengenai pencegahan penggunaan dan gangguan penggunaan narkoba (https://nida.nih.gov/research-topics/prevention; terjemahan lengkap dapat dibaca di: https://yayasanabhipraya.com/2025/12/01/pencegahan-penyalahgunaan-narkoba-seri-1/)

Sumber: NIDA. 2024, February 6. Trauma and Stress. Retrieved from https://nida.nih.gov/research-topics/trauma-and-stress on 2026, January 10

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *